“Yah… Lihat Fixie Ku….”
Alarm pagi ini telah berbunyi. Hari ini adalah hari Senin, seperti biasanya gue, kakak gue dan ayah selalu berebut untuk masuk kamar mandi terlebih dahulu.
“Rikas, Steven, kalian ngalah dong sama ayah, ayah sudah telat pergi ke toko” kata Ayah.
Mau tidak mau kami harus mengalah kepada Ayah, kalau Ayah telat penghasilan dari toko kami pasti berkurang dan itu pasti berpengaruh dengan kehidupan ekonomi keluarga gue yang cukup susah..
Setelah semua selesai mandi dan sarapan, kita semua berangkat. Kak Steven berangkat bersama ayah menggunakan sepeda motor, kebetulan kampus Kak Steven dekat dengan toko Ayah. Sementara itu gue harus ke sekolah menggunakan sepeda tua milik ayah. Huftt…
Di tengah jalan menuju sekolah, gue bertemu dengan sekelompok anak SMA yang menamakan kelompok mereka dengan sebutan “Anak Gowes”. Mereka menggunakan sebuah sepeda rakitan bernama sepeda fixie. Ya, sudah sejak lama gue ingin punya sepeda itu, gue juga pernah mencoba meminta kepada ayah namun sesuai dengan yang gue perkirakan ayah selalu berkata
“Kalau kamu ingin sesuatu, kamu harus bisa kerja keras untuk mendapatkannya, kamu harus menabung untuk mendapatkan barang itu” ujar Ayah.
Lama melamun gue sempat berpikiran untuk bekerja, tapi kerja apa? Mana ada perusahaan yang mau nerima pegawai yang masih berseragam SMA? Batin gue.
Setelah tiba di sekolah, gue memarkirkan sepeda butut gue diantara sepeda-sepeda milik Adzam dan kawan-kawan. Ya, Adzam merupakan ketua genk “Anak Gowes” di sekolah sekaligus anak dari penyumbang dana terbesar untuk sekolah gue. Sebelum masuk kelas, gue melihat ada seorang loper koran sedang melempar koran ke halaman rumah yang ada di depan sekolah gue. Ting!! Seperti mendapat ilham
“Gue bisa jadi loper koran, gue bisa bangun pagi untuk mengantar koran dan penghasilan dari loper koran akan gue tabung untuk beli sepeda fixie yang gue mau.. Asikk pulang sekolah gue akan cari agen koran.. ” Kata gue bersemangat.
Saat berjalan menuju kelas, gue ngeliat dia. Cewek yang selama ini gue taksir. Winnie namanya, cantik, pintar, salah 1 anggota modern dance yang ada di sekolah. Gue udah mendem perasaan ini 2 tahun, gue gag pernah berani untuk nyapa apalagi nembak dia. Tapi hari ini gag tau kenapa gue pengen nyapa dia, baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba,
“Winnie” Panggil Adzam. Yak lagi lagi gue kalah sama Adzam , dan niat gue untuk mendekati Winnie sirna setelah melihat mereka berdua jalan bareng menuju kelas. Fiuh udah nasib.
Sepulang sekolah gue menyempatkan diri untuk mampir ke agen koran milik Pak Freddy yang merupakan ayah dari Winnie.
“Pak, saya ingin melamar sebagai loper koran, apa ada lowongan untuk saya?” Tanya gue ke Pak Freddy.
“Wah kebetulan banget, kemarin pegawai saya baru saja mengundurkan diri dan hari ini saya kualahan mengantar pesanan koran pelanggan, baiklah kamu saya terima besok datang jam 5 pagi dan akan mulai mengantar koran besok , bagaimana?” Tanya Pak Freddy.
“Baiklah pak, saya akan datang sebelum jam 5 dan tidak akan telat” Kata gue mantab.
“Saya pegang janjimu” kata Pak Freddy sambil tersenyum.
Entah kenapa gue senang sekali mendapat pekerjaan itu, entah memang karena pekerjaannya atau senang karena mungkin gue bisa lebih dekat dengan Winnie. Siapa yang tahu? Sebodo amat yang penting gue dapet kerja dan gue bisa nabung dengan upah nya dan membeli sepeda fixie impian gue.
Keesokan pagi nya gue bangun jam setengah 5 pagi dan langsung berangkat menuju agen koran Pak Freddy. Gue enjoy sama pekerjaan baru gue. Ya gue harus giat bekerja untuk membeli apa yang gue inginkan.
Sebulan berlalu, gue sudah sangat mencintai pekerjaan gue dan gue semakin dekat dengan Winnie. Suatu hari setelah mengantar koran, gue pamit sama Pak Freddy dan Winnie untuk pulang. Namun di tengah jalan gue di hadang sama segerombolan “Anak Gowes” pimpinan Adzam.
“Lo ngapain ke rumah Winnie terus? Ada hubungan apa lo sama Winnie?” Tanya Adzam dengan emosi.
“Kenapa? Ada masalah? Lo bodoh atau gimana sih? Gue kan loper koran, gue kerumah Winnie untuk ambil koran yang akan gue anter ke rumah pelanggan” Jawab gue sewot.
“Kalo lo Cuma loper koran, ngapain lo deket-deket Winnie? Pake acara cari muka sama bokap nya!!!” Adzam lebih sewot dan cuhh dia meludah kearah gue.
Plak..Guplak..Gedebug..Gubrag..
Gue pingsan. Gue gag inget apa-apa lagi, yang gue tahu cuma gue di keroyok temen-temennya Adzam sampai gue kayak gini. Kepala cenat cenut, seluruh badan gue sakit. Gue terkapar di rumah sakit.
Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk dan mereka pun masuk.
“Hai Rikas, kok lo bisa kayak begini?” Tanya Winnie yang kelihatan cemas.
“Iya sob, lo kenapa? Siapa yang ngelakuin ini semua ke lo? Bilang sama gue biar gue ama anak-anak yang bales semua nya” Kata Adzam.
Gue berusaha untuk tenang, walau sebenarnya hati gue panas banget.
“Masih sakit ya kas?” Tanya Winnie.
Gue mengangguk.
“Ya udah, lo istirahat aja ya, gue mau pamit, gag bisa lama-lama soalnya mau ada bimbel” Kata Winnie
“Makasih Win” kata gue lirih.
“Iya bro, gue juga pamit, mau antar Winnie bimbel, lo santai aja, gag usah mikir apa-apa, biar lo cepet sembuh” Senyum Adzam penuh kemenangan.
Hati gue udah panas banget, mereka berdua lalu menuju pintu untuk keluar, Winnie diikuti oleh Adzam, pintu dibuka Winnie keluar, Adzam?? Prak… Gumprang…Jedug..
“Aduhhhh sakittt!!” teriak Adzam kesakitan.
Ya gue ngelempar Adzam pake tempat makan alumunium. Biar tahu rasa dia, gue puas.
Tapi kejadian itu bikin Ayah marah, kenapa? Ternyata Bokap Adzam adalah teman baik Ayah dari SMA. Bokap Adzam sering meminjamkan modal jualan untuk ayah dan memberi orderan untuk Ayah.
Sejak kejadian itu, toko Ayah menjadi sepi, orderan pun sudah tidak ada, keuangan keluarga kami menurun drastis. Beruntung Kak Steven telah magang di sebuah perusahaan bank swasta dan kami sepakat untuk menyisihkan 75% dari hasil kerja kami untuk membantu keuangan keluarga. Tapi jika gue mengingat sepeda fixie keluaran terbaru, niat gue untuk membantu keluarga sedikit goyah. Beruntung Kak Steven selalu menasihati dan menguatkan gue.
Di setiap akhir bulan, gue dan Kak Steven selalu memberi 75% dari hasil gaji kami kepada Ibu. Ibu sangat senang sekali, dan gue ikut terharu setiap Ibu menerima uang dari kami, Ibu selalu menitikkan air mata.
Beberapa hari setelah itu gue ngerasa ada yang aneh di rumah. Ibu sekarang sibuk ngurus toko Ayah. Memang belakangan kesehatan Ayah sempat menurun, namun ia enggan untuk di bawa ke rumah sakit dengan alasan hanya pusing biasa saja nanti juga sembuh.
Ayah juga jadi sering menelepon keluarga-keluarga kami di luar kota, dan Ayah selalu berkata ingin pergi keluar kota untuk mengunjungi mereka setelah sehat nanti.
Tiga bulan berlalu, kesehatan Ayah juga membaik. Beliau mulai sibuk dengan rutinitas harian nya menjaga toko kami. Ibu terlihat bahagia. Walau keadaan keuangan keluarga sudah membaik, gue tetap memberi 25% hasil gaji gue untuk diberikan kepada Ibu.
Hah? 25%? Itu artinya gue udah bisa membeli sepeda fixie yang gue inginkan. Kapan ya kira-kira belinya? Sama siapa? Winnie? Ah lupakan dia sudah jadian dengan Adzam. Nanti bisa repot lagi.
Ya udah gue mutusin untuk pergi ke bengkel sepeda sendiri. Gue keliling bengkel sepeda dan mencari sepeda fixie yang gue inginkan. Yak pilihan gue jatuh pada sepeda fixie berwarna putih dengan aksen warna biru di beberapa bagiannya. Setelah membayar, gue minta untuk menitipkannya di rumah Pak Freddy. Sengaja gak langsung gue pake, kira-kira seminggu lagi baru akan gue pamerkan kepada orang-orang termasuk Ayah, Ibu dan Kak Steven. Gue ngerasa sepeda yang gue beli ini sebagai pembuktian kepada Ayah kalo gue udah bisa mandiri.
Sementara itu tiba-tiba Winnie datang menghampiri gue, yang sedang istirahat setelah mengantar koran. Dia mengaku telah putus dengan Adzam. Hah? Berita bagus, berarti gue bisa deketin dia lagi.. Yes!!
“Kas, maafin gue” bisik Winnie. Dia nyesel banget sempat menjauh dari gue gara-gara Adzam.
“Gak apa-apa Win, lupain aja yang udah lewat” Jawab gue.
Cupp.. Tiba-tiba kecupan hangat mendarat di pipi kiri gue. Ciuman yang bisa bikin Jantung gue cenat-cenut dan merasa seperti melayang ..
Suatu hari, gue disuruh lembur oleh pak Freddy karena besok adalah hari libur. Meski males, gue gak bisa nolak permintaannya.
Biar gak ada yang ganggu gue saat hitung koran, gue sengaja silent ponsel gue dan memasukkannya ke dalam loker.
“Gak akan ada yang nelpon gue malem-malem, besok jam 5 pagi baru akan gue lihat ponsel nya” Batin gue.
Tepat pukul 05.05 WIB gue selesai menghitung koran-koran. Gue check ponsel gue yang ada di loker. Loh? Ada 10 Missed Calls dari Ayah dan 15 Missed Calls dari Kak Steven. Ada apa ini? Baru gue ingin telepon balik, tiba-tiba ponsel gue bergetar, ternyata itu dari Kak Steven.
Dia marah sekali karena gue susah di hubungin. Gue Disuruh pulang secepatnya.
“Emang ada apa kak?” Tanya gue penasaran.
“Nanti lo liat sendiri di rumah” Jawab Kak Steven yang terdengar sangat lirih.
Gag tau kenapa gue ingin pulang membawa sepeda fixie yang baru gue beli. Setelah berpamitan dengan Pak Freddy, gue kayuh sepeda fixie baru gue dengan kecepatan tinggi. 10 Menit kemudian gue udah sampai. Ada bendera kuning di depan rumah. Dan ternyata Ayah meninggal pukul 04.00 .
Gue lemes, lunglai, diam seribu bahasa. Kehilangan seorang Ayah merupakan hal yang berat buat gue. Ayah yang selalu mengajarkan gue untuk selalu bekerja keras, pantang menyerah dan selalu berdoa untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Tiba-tiba gue ingat dengan sepeda fixie yang gue beli dengan hasil keringat gue sendiri. Sepeda yang belum sempat gue perlihatkan kepada Ayah. Gue lalu beranjak keluar dan membawa sepeda fixie gue masuk. Gue harap ayah melihatnya. Gue harap Ayah bangga sama gue.
Gue tercenga, menitikkan air mata sambil berkata “Yah, lihatlah sepeda fixie ku”.