Selasa, 18 Juni 2013

Pentingnya Media Relations dalam PR praktis

Media Relations
Bagi seorang praktisi Public Relations, melakukan kegiatan media relations adalah salah satu hal yang sangat penting. Strategi yang akan dibuat oleh seorang PR tidak akan memiliki arti apabila Public Relations tersebut tidak melakukan kegiatan hubungan dengan media.

Media Relations itu sendiri merupakan salah satu kegiatan PR yang berhubungan dengan media massa dalam hal publikasi organisasi atau perusahaan tempat ia bekerja. Ketika melakukan kegiatan media relations, hubungan baik yang terbangun antara Praktisi PR dengan media massa bukanlah tujuan utama. Tujuan utama dari kegiatan media relations ini adalah terciptanya kepercayaan dalam diri masyarakat (stakeholder) terhadap perusahaan atau organisasi tersebut.

Untuk mencapai tujuannya , seorang praktisi PR membutuhkan media massa agar dapat menjangkau stakeholder-nya yang bersifat heterogan dan berada di tempat yang terpisah-pisah. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan hubungan yang baik antara praktisi PR dengan wartawan supaya pesan yang dibuat oleh praktisi PR tersebut dapat dipublikasikan oleh media massa dan sampai kepada masyarakat.

Hubungan antara praktisi PR dengan instansi media akan terjadi secara efektif jika menggunakan strategi media relations yang tepat. Menurut buku Media Relations: Konsep Strategi dan Aplikasi, kegiatan media relations terbagi atas dua bentuk.

Pertama yaitu bentuk tulisan contohnya seperti press release (siaran pers), letters to the editor (membuat surat atau tulisan yang dikirim kepada editor), Public Service Announcements (Pemberitahuan mengenai layanan publik), dan Electronic Communications (Komunikasi melalui media internet, seperti memasang iklan, hingga berkomunikasi menggunakan sosial media)

Kedua yaitu dalam bentuk acara atau events. Beberapa contoh acara media relations yang dibuat oleh praktisi PR seperti, kunjungan pers (praktisi PR mengundang wartawan atau pekerja media untuk mengunjungi perusahaan/organisasi tempat ia bekerja), press calls (bentuk kegiatan yang dilakukan praktisi PR untuk menyampaikan informasi atau berita melalui telepon), media events (kegiatan yang dilakukan dengan mengundang media massa, baik cetak maupun elektronik ketika perusahaan menjadi sponsor dalam suatu kegiatan), dan salah satu yang paling penting adalah konferensi pers (Press Conference).

Dalam kegiatan media relations, praktisi PR harus melakukan kegiatan tersebut secara seimbang antara acara-acara media relations dengan membuat tulisan media relations. Terkadang dalam praktik nya, tidak jarang kegiatan media relations akan menimbulkan miss-communication, apabila acara-acara tersebut tidak disertai dengan tulisan-tulisan media relations. Tulisan tersebut menjadi hal yang penting untuk menjelaskan maksud dari acara tersebut dalam konteks perusahaan atau organisasi sebagai penyelenggara.

Salah satu kegiatan media relations yang paling sering dilakukan oleh praktisi PR adalah konferensi pers (press conference). Konferensi Pers itu sendiri adalah sebuah kesempatan yang dimiliki seorang PR untuk menyampaikan kebenaran dari berita yang bisa ia sampaikan dalam bentuk laporan berita.

Keberhasilan konferensi pers sangat dipengaruhi oleh persiapan sebelum melaksanakan kegiatan tersebut. Menurut Sarah Silver dalam bukunya A Media Relations Handbook for Non Governmental Organization memberikan tips beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh praktisi PR sebelum melaksanakan kegiatan konferensi pers, yaitu antara lain :


1. Kontak media

Sebelum melaksanakan konferensi pers, hendaknya seorang PR harus menghubungi sumber-sumber berita minimal sekitar dua atau tiga hari sebelum acara berlangsung.

2. Format

Format termasuk salah satu yang penting dalam konferensi pers, oleh karena itu PR harus menyediakan tempat yang nyaman sesuai dengan format konferensi pers yang akan ia buat.

3. Visual

Dengan menggunakan visualisasi, konferensi pers akan lebih menarik. Misalnya, suatu perusahaan menampilkan logo produk/perusahaannya diatas meja tempat pembicara berlangsung.

4. Waktu

Umumnya konferensi pers berlangsung antara pukul 10.00-11.00 atau antara 13.30-15.00. jika lewat atau melebihi waktu tersebut, PR akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan media, karena jika melewati waktu tersebut, wartawan telah memasuki waktu deadline.

5. Pembicara

Batasi jumlah pembicara sekitar dua atau tiga orang, dan pilih pembicara yang representative dan berkompeten untuk menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh wartawan.

6. Pers Kit

Pers kit terdiri atas alat-alat yang dibutuhkan dalam konferensi pers yang meliputi berita dan pessan-pesan yang ingin disampaikan.

7. Evaluasi

Evaluasi sangat penting untuk me-review apakah konferensi tersebut berjalan dengan baik dan bermanfaat. Sesi evaluasi ini menjadi satu kesempatan untuk melihat cara yang lebih efektif yang dapat diterapkan pada konferensi pers berikutnya.

Senin, 03 Juni 2013

Perjalanan Menemukan Passion Dalam Diri

“Your passion is not what you’re good at, it is what you enjoy the most” 
Silver metatalik, abu-abu dan merah merupakan kombinasi warna yang begitu mewah tertata sebagai sampul depan buku. Buku ini ditulis oleh Rene Suhardono, seorang Career Coach, penulis buku, public speaker dan juga penikmat kuliner. Buku yang berjudul Your Journey To Be The Ultimate U ini adalah karya Rene yang kedua setelah buku pertamanya berjudul Your Job is Not Your Career.

Isi buku ini ialah kumpulan artikel Rene yang ada pada kolom Career Coach koran Kompas, yang rilis setiap hari Sabtu. Rene menulis kolom tersebut sejak tahun 2010 dan memutuskan untuk membukukannya.

“Dengan membukukannya, dapat membuka kesempatan bagi pembaca untuk menyusuri ulang perjalanan perenungan Rene tentang passion dan purpose, disadarkan akan pilihan yang kita punya dalam hidup ini, dan dituntut untuk menemukan diri yang terbaik,” komentar Mardi Wu, CEO Nutrifood, tentang buku ini.

Dari awal buku sampai akhir, pembaca diajak untuk berpikir, merasakan dan mengenal diri sendiri dengan lebih baik melalui passion. Di awal buku kedua ini, penulis mengingatkan kepada pembaca akan pentingnya mengenal passion sebagai kompas penunjuk arah dalam merintis dan meniti karir. Karena passion adalah anak tangga pertama dalam sebuah perjalanan karir.

Banyak yang mengira bahwa passion sama dengan hobi, hal tersebut memang mirip, namun tidaklah sama. Bisa diibaratkan hobi adalah “pekarangan” dari passion. Hobi lebih menitik beratkan pada melakukan apa yang kita suka atau gemari saja. Namun, passion adalah melakukan apa yang kita suka dengan hati yang ikhlas dan merasa mendapatkan kebahagiaan setelah melakukannya, bahkan jika tanpa imbalan sekaligus.

Sesungguhnya passion sudah ada dalam diri kita, yang terpenting adalah bagaimana kita peduli dengan diri kita sendiri. Perbanyak mendengarkan isi hati, think less and feel more. Tanda-tanda mengenal passion sangatlah mudah, Anda seperti dilanda oleh semacam “keresahan positif” untuk terus berkreasi, berkarya dan berkontribusi terhadap bidang yang menjadi passion anda.

Selain passion, penulis juga membahas serta menitikberatkan pada purpose (tujuan) membahas tentang apa yang terpenting dalam hidup anda dan bagaimana cara mencapainya. Selain itu, value (nilai) membahas tentang nilai-nilai apa yang diyakini oleh pembaca untuk mencari dan menemukan passion dalam dirinya.

Buku ini terdapat 40 bab, dimana setiap bab nya, penulis juga menceritakan cerita-cerita inspiratif dari orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing seperti komedian, social entrepreneur, penyiar radio, pembawa acara. Mereka melakoni pekerjaan tersebut berdasarkan passion yang ada dalam diri mereka, bukan karena adanya paksaan. Melakoni pekerjaan beda dengan melakoni karir. Pekerjaan adalah milik perusahaan yang memperkerjakan kita, sementara karir melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan minat dan passion kita.

Hal yang menarik dalam buku ini ialah hadiah berupa 40 stiker dengan gambar yang bermacam-macam. Stiker ini, nantinya akan ditempelkan pada halaman akhir bab yang telah dibaca sesuai dengan keinginan kita. Selain itu, banyaknya kalimat-kalimat positif yang dapat memotivasi kita untuk terus mencari dan menemukan passion yang ada dalam diri kita. Passion is already within you, think less, feel more. Learn to listen to your self, and be your true self.



Peresensi : Kris Aji Irawan