Kamis, 19 Desember 2013

Kata Orang

Kamis (29/12) Gak tau kenapa hari ini gue sering banget liat jam-jam dengan angka yang jarum jam nya sama, contohnya 10.10, 12.12, 15.15 dan yang terakhir 19.19. Kebanyakan orang bilang artinya ada yang kangen diawali dengan huruf itu. Namanya juga ‘kata’ orang, bisa aja bener, bisa juga nggak. Kata orang.

Hari ini seperti biasa, gue bangun pagi-pagi, mandi, sarapan lalu berangkat kuliah dengan bus yang setiap hari gue naiki setiap gue ingin berangkat ke kampus. Entah kenapa akhir-akhir ini gue selalu nggak fokus untuk melakukan setiap kegiatan. Orang bilang mungkin jenuh atau kurang semangat. Kata orang.

Hari ini jalanan Jakarta tidak seperti biasanya, lancar tanpa macet. Pergi ke kampus yang biasanya menggunakan durasi hampir dua jam (jika disertai kemacetan), hari ini cukup dengan satu jam saya sudah sampai kampus. Berpakaian hitam dengan celana jeans biru bukan hal yang aneh bagi gue, gue suka pakai pakaian yang seperti itu. Entah kenapa, kata orang pakai pakaian yang berwarna hitam bisa membuat perut saya terlihat langsing. Kata orang.

Setibanya dikampus langit mulai mendung, pertanda hujan akan turun. Mungkin saja. Tapi awan yang terlihat kelabu belum tentu akan mengeluarkan air untuk membasahi tanah yang sedari tadi kering diterpa panasnya matahari. Kata orang sih mendung belum tentu hujan. Kata orang.

Oh Tuhan, hari ini gue banyak mikirin kata orang. Kata orang, kalo orang badmood tanpa sebab itu artinya dia lagi kangen sama seseorang. Hmmmmm baiklah saya kangen kamu……………….

Denger lagu, inget kamu…. Liat foto inget kamu…. Hujan inget kamu…… 

Selasa, 18 Juni 2013

Pentingnya Media Relations dalam PR praktis

Media Relations
Bagi seorang praktisi Public Relations, melakukan kegiatan media relations adalah salah satu hal yang sangat penting. Strategi yang akan dibuat oleh seorang PR tidak akan memiliki arti apabila Public Relations tersebut tidak melakukan kegiatan hubungan dengan media.

Media Relations itu sendiri merupakan salah satu kegiatan PR yang berhubungan dengan media massa dalam hal publikasi organisasi atau perusahaan tempat ia bekerja. Ketika melakukan kegiatan media relations, hubungan baik yang terbangun antara Praktisi PR dengan media massa bukanlah tujuan utama. Tujuan utama dari kegiatan media relations ini adalah terciptanya kepercayaan dalam diri masyarakat (stakeholder) terhadap perusahaan atau organisasi tersebut.

Untuk mencapai tujuannya , seorang praktisi PR membutuhkan media massa agar dapat menjangkau stakeholder-nya yang bersifat heterogan dan berada di tempat yang terpisah-pisah. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan hubungan yang baik antara praktisi PR dengan wartawan supaya pesan yang dibuat oleh praktisi PR tersebut dapat dipublikasikan oleh media massa dan sampai kepada masyarakat.

Hubungan antara praktisi PR dengan instansi media akan terjadi secara efektif jika menggunakan strategi media relations yang tepat. Menurut buku Media Relations: Konsep Strategi dan Aplikasi, kegiatan media relations terbagi atas dua bentuk.

Pertama yaitu bentuk tulisan contohnya seperti press release (siaran pers), letters to the editor (membuat surat atau tulisan yang dikirim kepada editor), Public Service Announcements (Pemberitahuan mengenai layanan publik), dan Electronic Communications (Komunikasi melalui media internet, seperti memasang iklan, hingga berkomunikasi menggunakan sosial media)

Kedua yaitu dalam bentuk acara atau events. Beberapa contoh acara media relations yang dibuat oleh praktisi PR seperti, kunjungan pers (praktisi PR mengundang wartawan atau pekerja media untuk mengunjungi perusahaan/organisasi tempat ia bekerja), press calls (bentuk kegiatan yang dilakukan praktisi PR untuk menyampaikan informasi atau berita melalui telepon), media events (kegiatan yang dilakukan dengan mengundang media massa, baik cetak maupun elektronik ketika perusahaan menjadi sponsor dalam suatu kegiatan), dan salah satu yang paling penting adalah konferensi pers (Press Conference).

Dalam kegiatan media relations, praktisi PR harus melakukan kegiatan tersebut secara seimbang antara acara-acara media relations dengan membuat tulisan media relations. Terkadang dalam praktik nya, tidak jarang kegiatan media relations akan menimbulkan miss-communication, apabila acara-acara tersebut tidak disertai dengan tulisan-tulisan media relations. Tulisan tersebut menjadi hal yang penting untuk menjelaskan maksud dari acara tersebut dalam konteks perusahaan atau organisasi sebagai penyelenggara.

Salah satu kegiatan media relations yang paling sering dilakukan oleh praktisi PR adalah konferensi pers (press conference). Konferensi Pers itu sendiri adalah sebuah kesempatan yang dimiliki seorang PR untuk menyampaikan kebenaran dari berita yang bisa ia sampaikan dalam bentuk laporan berita.

Keberhasilan konferensi pers sangat dipengaruhi oleh persiapan sebelum melaksanakan kegiatan tersebut. Menurut Sarah Silver dalam bukunya A Media Relations Handbook for Non Governmental Organization memberikan tips beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh praktisi PR sebelum melaksanakan kegiatan konferensi pers, yaitu antara lain :


1. Kontak media

Sebelum melaksanakan konferensi pers, hendaknya seorang PR harus menghubungi sumber-sumber berita minimal sekitar dua atau tiga hari sebelum acara berlangsung.

2. Format

Format termasuk salah satu yang penting dalam konferensi pers, oleh karena itu PR harus menyediakan tempat yang nyaman sesuai dengan format konferensi pers yang akan ia buat.

3. Visual

Dengan menggunakan visualisasi, konferensi pers akan lebih menarik. Misalnya, suatu perusahaan menampilkan logo produk/perusahaannya diatas meja tempat pembicara berlangsung.

4. Waktu

Umumnya konferensi pers berlangsung antara pukul 10.00-11.00 atau antara 13.30-15.00. jika lewat atau melebihi waktu tersebut, PR akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan media, karena jika melewati waktu tersebut, wartawan telah memasuki waktu deadline.

5. Pembicara

Batasi jumlah pembicara sekitar dua atau tiga orang, dan pilih pembicara yang representative dan berkompeten untuk menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh wartawan.

6. Pers Kit

Pers kit terdiri atas alat-alat yang dibutuhkan dalam konferensi pers yang meliputi berita dan pessan-pesan yang ingin disampaikan.

7. Evaluasi

Evaluasi sangat penting untuk me-review apakah konferensi tersebut berjalan dengan baik dan bermanfaat. Sesi evaluasi ini menjadi satu kesempatan untuk melihat cara yang lebih efektif yang dapat diterapkan pada konferensi pers berikutnya.

Senin, 03 Juni 2013

Perjalanan Menemukan Passion Dalam Diri

“Your passion is not what you’re good at, it is what you enjoy the most” 
Silver metatalik, abu-abu dan merah merupakan kombinasi warna yang begitu mewah tertata sebagai sampul depan buku. Buku ini ditulis oleh Rene Suhardono, seorang Career Coach, penulis buku, public speaker dan juga penikmat kuliner. Buku yang berjudul Your Journey To Be The Ultimate U ini adalah karya Rene yang kedua setelah buku pertamanya berjudul Your Job is Not Your Career.

Isi buku ini ialah kumpulan artikel Rene yang ada pada kolom Career Coach koran Kompas, yang rilis setiap hari Sabtu. Rene menulis kolom tersebut sejak tahun 2010 dan memutuskan untuk membukukannya.

“Dengan membukukannya, dapat membuka kesempatan bagi pembaca untuk menyusuri ulang perjalanan perenungan Rene tentang passion dan purpose, disadarkan akan pilihan yang kita punya dalam hidup ini, dan dituntut untuk menemukan diri yang terbaik,” komentar Mardi Wu, CEO Nutrifood, tentang buku ini.

Dari awal buku sampai akhir, pembaca diajak untuk berpikir, merasakan dan mengenal diri sendiri dengan lebih baik melalui passion. Di awal buku kedua ini, penulis mengingatkan kepada pembaca akan pentingnya mengenal passion sebagai kompas penunjuk arah dalam merintis dan meniti karir. Karena passion adalah anak tangga pertama dalam sebuah perjalanan karir.

Banyak yang mengira bahwa passion sama dengan hobi, hal tersebut memang mirip, namun tidaklah sama. Bisa diibaratkan hobi adalah “pekarangan” dari passion. Hobi lebih menitik beratkan pada melakukan apa yang kita suka atau gemari saja. Namun, passion adalah melakukan apa yang kita suka dengan hati yang ikhlas dan merasa mendapatkan kebahagiaan setelah melakukannya, bahkan jika tanpa imbalan sekaligus.

Sesungguhnya passion sudah ada dalam diri kita, yang terpenting adalah bagaimana kita peduli dengan diri kita sendiri. Perbanyak mendengarkan isi hati, think less and feel more. Tanda-tanda mengenal passion sangatlah mudah, Anda seperti dilanda oleh semacam “keresahan positif” untuk terus berkreasi, berkarya dan berkontribusi terhadap bidang yang menjadi passion anda.

Selain passion, penulis juga membahas serta menitikberatkan pada purpose (tujuan) membahas tentang apa yang terpenting dalam hidup anda dan bagaimana cara mencapainya. Selain itu, value (nilai) membahas tentang nilai-nilai apa yang diyakini oleh pembaca untuk mencari dan menemukan passion dalam dirinya.

Buku ini terdapat 40 bab, dimana setiap bab nya, penulis juga menceritakan cerita-cerita inspiratif dari orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing seperti komedian, social entrepreneur, penyiar radio, pembawa acara. Mereka melakoni pekerjaan tersebut berdasarkan passion yang ada dalam diri mereka, bukan karena adanya paksaan. Melakoni pekerjaan beda dengan melakoni karir. Pekerjaan adalah milik perusahaan yang memperkerjakan kita, sementara karir melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan minat dan passion kita.

Hal yang menarik dalam buku ini ialah hadiah berupa 40 stiker dengan gambar yang bermacam-macam. Stiker ini, nantinya akan ditempelkan pada halaman akhir bab yang telah dibaca sesuai dengan keinginan kita. Selain itu, banyaknya kalimat-kalimat positif yang dapat memotivasi kita untuk terus mencari dan menemukan passion yang ada dalam diri kita. Passion is already within you, think less, feel more. Learn to listen to your self, and be your true self.



Peresensi : Kris Aji Irawan

Selasa, 28 Mei 2013

PR di Indonesia, Gambaran Umum dan Kelemahannya


Di era komunikasi dan informasi seperti saat ini, peran Public Relations (PR) semakin diperlukan. PR adalah salah satu sub bidang ilmu komunikasi dan sedang diminati, dimana secara praktis, komunikasi adalah tulang punggung dari kegiatan PR. PR memiliki fungsi manajemen, dimana salah satunya adalah bertugas untuk menyusun rencana kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publik. Profesi PR dapat dikatakan sebagai profesi yang cukup unik karena praktik PR telah memasuki bermacam-macam sektor seperti sektor sosial, industri, pendidikan, kesehatan, politik, pemerintahan, dan sektor lainnya.

Menjadi praktisi PR tidaklah mudah. Hidup praktisi PR selalu penuh dengan ragam kejutan, peristiwa terjadi silih berganti dan semua peristiwa tersebut menuntut penangan terbaik. Penanganan peristiwa itu menuntut strategi komunikasi yang baik, lengkap denagn alternatif serta konsekuensinya.

Dalam buku Strategi Public Relations, Silih Agung Wasesa menjelaskan bahwa strategi PR yang smart bisa menjadi perangkat ampuh bagi perusahaan dalam menghadapi krisis. karena pada dasarnya yang dihadapi adalah soal bagaimana meraih dukungan dan pemahaman publik.

PR yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar organisasi dengan lembaga lain dan publiknya harus memiliki strategi untuk mengkomunikasikannya. Dalam melakukan strategi, PR tidak lepas dari fungsi publisitas serta bekerja sama dengan Media Massa.

Menurut Wahyu Muryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo dalam menjalankan fungsi publisitas, seorang PR hendaknya memperhatikan unsur-unsur dalam nilai berita. Unsur-unsur dalam nilai berita di antaranya kehangatan atau aktualitas, ada pula unsur kedekatan atau proksimitas, ketokohan atau figur. Selain itu harus berdampak luas atau, angle-nya baru, sesuai misi, harus informatif, keamanan lingkungan, Eksklusif, Prestisius dan juga Kontroversial.

Dalam menghadapi krisis manajemen, tak pelak tugas PR untuk membuat Bad News menjadi Good News. “Harus kuasai masalahnya, ceritakan apa adanya, konteksnya, koreksinya ya just for background. Kemudian perhatikan pembuatan atau penyusunan press release. Press release harus bagus, berisi dan mampu menghidupkannya, jangan lupa testimoni pakar, jangan defensif serta update terus, lalu fokuskan pada sisi baiknya,” ungkap Wahyu Muryadi.

Menurut Wahyu seorang praktisi PR harus mampu memikat pers, “Kalau praktisi yang benar-benar dididik untuk menjadi orang PR, pasti dia sudah tahu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal memikat pers seperti, kegiatan yang harus dilakukan harus mempunyai “Nilai berita” misalnya, apa yang baru atau apa yang istimewa,” ungkapnya.

Wahyu menambahkan bahwa seorang praktisi PR tidak boleh kenal lelah, harus bekerja keras, selalu kreatif yang sifatnya out of the box. Selain itu, praktisi PR harus sering bertatap muka, itu jauh lebih efektif dan bukan sekedar media visit. Harus mengetahui peta media massa, menguasai dan fokus pada media massa terkemuka nasional, internasional, daerah atau media massa segmented yang berkaitan dengan perusahaan Anda. Jangan lupa juga media sosial yang semakin efektif.

PR harus mengetahui dan memahami media massa, bukan hanya mengandalkan sudah kenal Pemred-nya, Kenal dan berhubungan baik-lah dengan wartawannya. Yang harus disadari juga adalah lakukan sosialisasi atau pengkondisian sejak dini sebelum masalah meledak. “Jadi PR juga harus punya jaringan luas, kenal dan berhubungan baik dengan Editors Club, Forum Pemred, Dewan Pers, SPS, PWI, AJI, IJTI, dan lainnya,” tambah Wahyu.

Wahyu pun menilai setidaknya ada sepuluh kelemahan praktisi PR di Indonesia. Kelemahan tersebut antara lain Pertama, kurang memahami dan menguasai masalah. Kedua, tidak memiliki akses langsung ke pimpinan puncak korporasi. Ketiga, hanya sebagai penyelenggara Konferensi pers (EO). Keempat, kurang cakap memanfaatkan media massa sebagai “free publication” . Kelima, akses ke media massa kurang menyeluruh. Keenam, hanya mengontak Jurnalis jika ada perlu. Ketujuh, kurang kreatif berkomunikasi atau bersilaturahmi dengan pers. Kedelapan, kerap bertindak sigap sebagai pemadam kebakaran. Kesembilan, press release yang konvensional dan kurang memikat. Kesepuluh, kurang tanggap merespon kebutuhan pers misalnya, sulit akses wawancara wartawan khusus ke Chief Executive Officer (CEO).

Sumber: www.theprworld.com

Editor: Kris Aji Irawan

Fast and Furious 6 : Ride or Die




Judul : Fast and Furious 6
Sutradara : Justin Lin
Cast :  Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Tyrese Gibson, Chris Bridges, Sung Kang, Gal Gadot, Luke Evans, Gina Carano, Joe Taslim
Tayang : 24 Mei 2013



Bagi pecinta otomotif, khususnya mobil-mobil mewah dengan kecepatan yang fantastis pasti tidak asing dengan film ini. Film yang memperlihatkan aksi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menghiasi dari awal hingga akhir film. Kini film tersebut memasuki sekuel keenamnya  dan telah pun dirilis pada 24 Mei 2013 dengan tajuk Fast & Furious. Film franchise asal Hollywood ini masih disutradarai dengan setia oleh Justin Lin yang juga membesut film ketiga, keempat dan kelimanya.

Sekuel keenam kali ini masih bercerita mengenai geng mobil yang dipimpin oleh Dominic Toretto (Vin Diesel) yang memutuskan untuk pensiun setelah berhasil membawa kabur uang $100 juta di aksi terakhir mereka di Rio de Janeiro, Brasil pada film kelima. Dom memutuskan untuk tinggal bersama Elena Neves (Elsa Pataky) sedangkan Brian O’Conner (Paul Walker) menikah dengan adik perempuan Dom, Mia Toretto (Jordana Brewster) dan baru saja dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Jack. Sementara Han (Sung Kang) dan Gisele Yashar (Gal Gadot) memutuskan untuk pergi ke Hongkong, Roman Pearce (Tyrese Gibson) dan Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) berkelana dan bersenang-senang menikmati hasil kekayaan mereka. Mereka berharap tidak akan berurusan dengan hukum dan dapat hidup dalam damai. Tapi ternyata mereka salah.

Suatu ketika, Luke Hobbs (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) sedang menyelidiki sebuah kasus penyerangan konvoi militer Rusia serta pencurian Chips oleh sebuah grup dengan kemampuan penyerangan dan pencurian yang cepat serta melakukan berbagai perampokan lain di London dan Negara-negara Eropa lainnya. Grup tersebut didalangi oleh mantan special ops soldier yang menjadi kriminal bernama Owen Shaw (Luke Evans) yang berkeinginan menciptakan sebuah alat dari Chips yang ia curi kemudian akan dijualnya dengan harga tinggi di pasar gelap.

Hobbs tahu benar bahwa aksi penyerangan dan pencurian seperti itu harus dilawan oleh grup yang juga mampu bergerak dengan sama cepanya, karena itulah Hobbs yang kali ini didampingi oleh seorang assisten barunya yang bernama Riley (Gina Carano) meminta pertolongan Dom dan teman-temannya. Awalnya Dom tidak berniat sama sekali untuk kembali terjun ke dunia ‘kelam’ yang akan menambah daftar tindakan kriminalnya di data kepolisian, tapi Hobbs menyerahkan bukti keterlibatan Letticia ‘Letty’ Ortiz (Michelle Rodriguez), kekasih Dom yang selama ini ia kira sudah tewas. Akhirnya dengan perjanjian penghapusan daftar kejahatan yang dilakukan seluruh anggota grupnya, Dom bersedia mengumpulkan kembali anggota-anggotanya dan membantu Hobbs menangkap Shaw.

Hobbs harus mengeluarkan segala macam cara, menggunakan berbagai koneksinya untuk melacak jejak Shaw beserta grupnya agar dapat menggagalkan aksi pencurian mereka selajutnya. Aksi kejar-kejaran dengan mobil pun tak terelakkan antara kedua kelompok tersebut. Film ini selain berisi kejar-kejaran juga diisi oleh bumbu-bumbu percintaan, pengkhianatan serta kekeluargaan yang membuat film ini semakin berwarna

Beberapa scene cerita memang masih berhubungan dengan film-film sebelumnya, tapi mengingat betapa cukup sering film-film sebelumnya tayang di televisi, maka kemungkinan besar setiap orang paling tidak sudah pernah menonton salah satu filmnya dan cukup akrab dengan para tokohnya. Karakter setiap tokoh masih sama kuatnya dan dengan jajaran wajah para pemain yang masih sama dengan film-film sebelumnya.

Eksekusi film ini dikemas dengan baik. Beberapa kali penonton dibuat terkejut dengan beberapa ‘shocking’ scenenya, serta memasukan beberapa dialog yang berisi joke-joke, sehingga penonton tidak merasa terlalu serius saat menonton film ini. Dan sinematografinya pun cukup memanjakan mata. Melihat sudut pengambilan gambar yang indah, seperti pemandangan kota London di malam hari. Actionnya pun patut diacungi jempol karena begitu menegangkan sekaligus memukau pada saat bersamaan.

Aksi Joe Taslim
Masih ada satu hal lagi yang paling menarik perhatian ketika menonton film ini, tentu saja keterlibatan aktor Indonesia, Joe Taslim dalam film ini. Joe berperan sebagai Jah, seorang anak buah Shaw yang jago bela diri. Joe pun mendapatkan porsi akting yang cukup besar, sangat memukau ketika ia memamerkan aksi bela dirinya saat menghantam Roman dan Han di salah satu adegan, serta ketika ia mengucapkan kata-kata berbahasa Indonesia dalam dialognya. Menambah kebanggaan sendiri bahwa aktor dalam negeri dapat disejajarkan dengan aktor dan aktris besar Hollywood.

Ketika film sudah selesai, ada scene terakhir yaitu munculnya Jason Statham saat Han mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tewas pada Fast and Furious : Tokyo Drift. Apakah ini mengisyaratkan akan dibuatnya sekuel ke-tujuh dari film ini? Mari kita tunggu aksi lanjutan dari Vin Diesel dan kawan-kawan ini.