Selasa, 05 Juni 2012

Menertawai Diri Sendiri


Perlunya humor di kehidupan terkadang dapat membantu kita keluar dalam pikiran tidak bebas yang sering kali mengakibatkan stress. Seringnya kita terlalu fokus akan satu hal tak jarang melupakan kebahagiaan kebahagiaan yang seharusnya dapat kita temukan, namun karena hal tersebut kita melewati kebahagiaan itu begitu saja. Sehingga saat kita tersadar telah melewati hal-hal yang dapat membuat kita bahagia, kita akan tertawa, menertawai situasi bahkan menertawai betapa bodohnya diri ini membiarkan pikirannya terjerat dan terlalu fokus pada satu hal saja.

Dari kata-kata "menertawai diri sendiri" mungkin masih bingung apa makna yang sebenarnya. bahkan, mungkin ada yang berfikiran orang ini gila, sarap dan sebagainya karena menertawai diri sendiri. inilah persepsi saya mengenai hal itu

Sering kali kita tenggelam pada hal-hal yang membuat  kita khawatir dan memikirkanya terus menerus, memikirkan apa yang dikatakan oleh orang-orang, apa yang belum pernah kita miliki dan sebagainya. tidak dipungkiri, saya pun masih sering berfikir demikian. Padahal, intinya hidup itu untuk dinikmati bukan untuk di khawatirkan sehingga melupakan hal-hal penting yang dapat membuat kita lebih 'hidup'

You can't do all the things in the same time. ya kamu tidak dapat melakukan semua yang kamu inginkan secara bersamaan. Pasti akan ada yang terlewatkan dan pada kemudian hari akan mengingatnya hingga menyesal. Pada kondisi yang seperti itu, dibutuhkan suatu cara agar mengembalikan kepercayaan diri kita kembali dan move on dari penyesalan tersebut, yaitu menertawai diri sendiri. sulit memang melakukan hal itu apalagi disaat kita merassa down, dimana kita merasa sendirian. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa

Saat saya SMP, saya pernah datang ke musholla yang ada di depan gang rumah saya, kemudian terisak tangis saat menyesali apa yang telah terjadi. saat itu saya melakukan hal bodoh akibat iri dengan seorang teman dan saya sangat menyesali nya. Saat itu musholla sepi, tidak ada orang, yang ada hanya mimbar, barisan sajadah yang menjulang ke arah kiblat serta hiasan berlafazkan Allah SWT. Saat saya terisak, tiba-tiba ada yang menghampiri dan menertawai saya. Beliau adalah penjaga yang sering datang untuk membersihkan musholla. Beliau tertawa dan membiarkan saya menangis karena mungkin pikirnya setelah saya menangis saya akan lega. Beliau datang duduk di samping saya sambil masih tertawa, dan berkata

"Menangislah dan mengadu PadaNya, setelah itu tersenyumlah pada kehidupanmu, dan suatu saat kamu akan tertawai tangisan mu hari ini"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar