Minggu, 10 Februari 2013

Toleransi di Tahun Baru Imlek

Selamat Tahun Baru Imlek 2564
Gong Xi Fa Cai
Tahun baru china atau yang biasa kita kenal dengan imlek selalu menarik perhatian saya setiap tahun nya. Bukan, bukan karena saya warga keturunan tionghoa lantas tertarik dengan perayaan yang selalu menampilkan keceriaan tersebut. Saya menyukai imlek karena menurut saya itu salah satu bentuk kebudayaan yang sangat amat menarik.

Saya mulai mengenal tradisi dalam perayaan imlek semenjak saya duduk di bangku SMA, ya betul sekali karena tempat saya sekolah dulu mayoritas murid nya beragama Buddhist dari etnis Tionghoa jadi saya mau tidak mau harus mengenal kebudayaan tersebut. Saya belajar banyak mengenai kebudayaannya, mulai dari cara berdoa (hanya sekedar tahu, tidak ikut mempraktekan), cara mereka melakukan meditasi, yang satu ini saya selalu ikuti ya karena di sekolah saya mewajibkan muridnya melakukan meditasi sebelum memulai pelajaran dan juga sebelum mengakhiri pelajaran.

Kesempatan saya mempelajari kebudayaan tersebut lebih luas saat saya ditunjuk menjadi Ketua OSIS angkatan 22. Kala itu, saya sering sekali diundang baik dari pihak sekolah, pihak yayasan sampai dengan pihak kelenteng milik yayasan untuk menjadi panitia atau hanya sekedar membantu saat ada perayaan-perayaan khas etnis Tionghoa. Mulai dari perayaan Imlek, Magha Puja, Kathina hingga Cap Go Meh. Ya, semua itu kesempatan saya untuk tahu lebih banyak mengenai budaya yang bahkan saya belum pernah ketahui sebelumnya. Ya kalau tidak masuk SMA Ananda dan menjadi Ketua OSIS mungkin saya akan melewatkan kesempatan tersebut.

Balik lagi ke masalah perayaan imlek. Saya sempat beberapa kali diajak oleh sahabat-sahabat saya yang juga mayoritas etnis Tionghoa untuk mengikuti perayaan imlek. Hanya sekedar turut memeriahkan saja. Malam tahun baru imlek biasanya saya diajak pergi ke kelenteng, saat teman saya melakukan ibadah di dalam saya sempat mengikuti nya dan sempat melihat ke dalam kelenteng tersebut. Its new experience for me. Setelah melakukan ibadah, biasanya kami langsung melihat pertunjukkan barong sai di depan kelenteng. Ya, barongsai salah satu icon dari perayaan imlek yamg saya tahu. Lampion lampion terlihat indah menggantung di sekitaran wilayah kelenteng. Kelenteng cukup penuh sesak karena diisi oleh orang-orang yang ingin ibadah ataupun hanya melihat keceriaan acara disana. Dan biasanya tepat pada pukul 12 malam, seperti perayaan tahun baru pada umumnya, tahun baru imlek ini juga mengadakan pesta kembang api yang sangat meriah, warna warni kembang api melayang , terbang dan melerup di udara membentuk layaknya lukisan lukisan di atas awan. Indah sekali.

Saya punya banyak teman yang merayakan hari raya imlek. Tak terkecuali kedua sahabat saya Julius dan Tape. Mereka berdua berasal dari keluarga keturunan Tionghoa. Biasanya saat imlek datang, saya selalu bercanda kepada mereka bahwa saya ingin meminta angpao kepada mereka berdua. Tentu saja alasan kedua nya sama bahwa bagi siapa saja yang belum menikah, dilarang untuk membagikan angpao. Biasanya mereka selalu ngotot menjelaskan kepada saya setiap tahunnya, maaf ya namanya juga bercanda Hahaaha bahagia sekali mempunyai sahabat seperti mereka.

Indah nya perbedaan tak selamanya harus dijadikan momok untuk saling mencela, menghina bahkan dipermasalahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya kita semua adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Perbedaan akan indah jika kita menyikapinya dengan jiwa yang lapang. Pelangi juga tak akan indah bukan jika hanya satu warna saja?.

Ya, melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan kepada seluruh kawan , sahabat, dan seluruh masyarakat yang merayakannya “Selamat Tahun Baru Imlek 2564, Gong Xi Fa Cai, Xin Nian Kuai le” Semoga di tahun ular air ini kita semua dimudahkan dalam pekerjaan, diberikan rezeki yang cukup, diberikan kesehatan serta kesejahteraan. amin

2 komentar: