Selasa, 01 Juli 2014

Jangan Remehkan Secuil Rasa Kangen

Pernah gak sih saat sendirian dan sepi lo sadar bahwa temen – temen yang dulu sering ngumpul bareng satu per satu hilang? . Dulu biasanya untuk ngajak ngumpul nggak perlu perjuangan yang berat, cukup hubungin mereka, nentuin tempat, jam dan dimana kumpulnya, udah jadi ngumpul. Sekarang jangankan untuk ngajak ngumpul, untuk ngehubungin mereka aja terkadang butuh topik atau kalau ada kepentingan aja.

Time changes, but memories don’t. gue pernah baca di twitter @YeahMahasiswa, jangan sekali kali meremehkan secuil rasa kangen. Memang rasa kangen itu terkadang datangnya suka nggak bersamaan. Kok bisa? Ya contohnya aja sekarang gue lagi kangen untuk quality time sama sahabat-sahabat gue, tapi mungkin aja mereka nggak ngerasain kangen yang gue rasain saat ini, Begitupun sebaliknya, saat mereka tiba-tiba ngehubungin gue untuk ngajak ketemuan, gue lagi gak kangen sama mereka dan bawaannya males untuk ketemu sekedar ngobrol, cerita dan bahkan curhat (intinya sama sih sebenarnya).

Ada banyak hal yang menjadi faktor kenapa hal itu bisa terjadi, sibuk akan tugas atau pekerjaan masing-masing masih menjadi faktor utama kenapa kadang sulit untuk ngajak mereka ngumpul. Sempet dalam hati berkata, masa iya dalam seminggu itu orang sibuk mulu? Gak mungkin dong mereka bekerja atau ngerjain tugas-tugas kuliah dalam waktu satu minggu full? Masa gak ada jam jam istirahatnya? Jam istirahat itu kan bisa dijadiin waktu untuk ngilangin stress dengan cara berkumpul dengan sahabat-sahabat.

Selain faktor sibuk, faktor mereka yang memilih untuk nge kost dan jauh dari kota Bekasi menjadi alasan pendukung kenapa mereka sulit sekali kalau diajak kumpul. Mager untuk pulang adalah alasan paling sering gue dengar dari teman-teman yang memilih untuk nge kost. Kalau duit mereka belum habis atau ada perayaan hari raya yang menuntut mereka untuk harus pulang kerumah, mungkin mereka nggak akan pulang-pulang. Ya mirip bang Toyib lah ya.

Gue jadi ingat kata-kata yang kita ucapin waktu kita baru aja lulus dari masa putih abu-abu. 

“Bareng-bareng terus ya,”

“Pokoknya kita harus sering-sering ngumpul, walaupun udah beda kampus,”

That words is full of shit! Trust me!

Sampai dimana kita udah benar-benar misah karena beda kampus, yang ada bukan kata-kata itu lagi yang muncul, melainkan kata-kata seperti ini

“Dia apa kabar ya?, udah lama nggak ketemu, kangen juga sama itu anak”

I do believe that people come and go, selagi masih bisa menyempatkan waktu untuk bertemu dan kumpul bareng teman-teman, usahakanlah untuk berkumpul. Gue sempet berpikir kalo kehilangan temen yang udah sering ngumpul, udah kayak keluarga sendiri itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan kehilangan pacar, is it too lebay? No! menurut gue kehilangan pacar, kita masih bisa nyari lagi, tapi kalo kehilangan teman atau sahabat yang sudah kita anggap sebagai keluarga sendiri itu lebih susah,

Saat ini udah tiba pada saat mereka sudah sibuk dengan kegiatan nya masing-masing, salah siapa? Tidak ada yang salah, mungkin masa kita bareng-bareng emang sudah habis. Ada satu titik dimana lo ngeliat kebelakang dan sadar bahwa dulu yang sering bareng-bareng satu per satu menghilang, is it just me?
Dalam hati gue yang paling dalam, gue mau bilang bahwa “kalian adalah temen-temen terbangke, terkampret, ter-annoying yang pernah gue kenal. gue pengen kalian gangguin kayak dulu lagi, dammit!"

Pesen gue cuma satu, jangan nunggu susah-seneng-bareng sampe jadi susah-ngumpul-bareng. Jangan sampe susah banget diajak kumpul sampe temen-temen nggak ngajak lo kumpul lagi. Yo'll never know, maybe its for her/his last meet you.

The first thing you’ll realize when you wake up tomorrow morning is;

it’s all gone.

people come and go, memories from time well spent with them stay.

Rabu, 19 Maret 2014

Rectoverso : Sentuh Hati Dari Dua Sisi


Akhirnya, gue putuskan untuk membeli buku ini setelah berulang-ulang nonton filmnya dan jatuh cinta sama ceritanya. Marcella Zallianty, Rachel Maryam, Olga Lydia, Cathy Sharon dan Happy Salma berhasil membawa cerita dengan visualisasi yang menarik dan membuat omnibus 5 cerita dari 11 cerita pendek yang ada di buku ini menjadi tontonan yang apik. Didukung oleh kualitas acting para pemeran Indonesia seperti Lukman Sardi, Prisia Nasution, Dewi Irawan, Asmirandah, Dwi Sasono, Widyawati, Acha Septriasa, Indra Birowo, Sophia Latjuba, Yama Carlos, Tio Pakusadewo, Fauzi Baadila, Amanda Soekasah dan Hamish Daud semakin menguatkan bahwa film Rectoverso tidak bisa anda lewatkan begitu saja.

Cukup dengan filmnya, kali ini gue akan menulis tentang bukunya. Mungkin buku ini menjadi buku karya Dee yang kedua kalinya gue baca setelah Madre, pernah gue coba untuk baca Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang jatuh, namun bahasa yang digunakan Dee terlampau berat sehingga buku itu tak selesai gue baca. Berbeda dengan Supernova, Rectoverso dibuat dengan bahasa yang lebih apik dan mudah dimengerti bagi orang yang malas baca buku-buku berat seperti gue. Hehe Rectoverso terdiri dari 11 cerita pendek, diantaranya

1. Curhat Buat Sahabat
2. Malaikat Juga Tahu
3. Selamat Ulang Tahun
4. Aku Ada
5. Hanya Isyarat
6. Peluk
7. Grow a Day Older
8. Cicak di Dinding
9. Firasat
10. Tidur
11. Back to Heavens Light

Setiap cerita yang ada dalam cerpen tersebut menggambarkan cinta. Cinta yang tak terucap. Cinta yang universal. Dee berusaha menggambarkan cerita tersebut dari berbagai sisi, dan merangkainnya menggunakan kata-kata yang indah. Sentuh cinta dari dua sisi. Selain membuat cerpen, Dee yang multitalented membuat lagu dari 11 cerpen yang ada dalam buku ini dengan judul yang sama.
Dari ke 11 cerpen, ada beberapa cerpen yang gue suka. Berikut sedikit ulasannya.

1. Curhat Buat Sahabat

Kisah ini tentang curahan hati seorang perempuan kepada sahabat laki-lakinya. Malam itu perempuan tersebut mengikrarkan kebebasannya setelah lima tahun berusaha mencintai orang yang salah. Ia baru menyadari ketika ia sakit, tidak ada yang peduli dengannya, hanya sahabatnya yang rela menerjang hujan demi mengantarkan obat flu dan segelas air putih hangat untuk perempuan tersebut. Perempuan itu baru menyadari bahwa jauh-jauh ia mencari orang yang sayang kepada dirinya, ternyata orang yang selama ini sayang dengan dirinya adalah sahabat nya sendiri. Namun laki-laki itu menyadari bahwa cinta itu sudah terlalu tua untuk dirinya.

Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tiidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku….. dan segelas air putih,”

2. Malaikat Juga Tahu

Kisah ini bercerita tentang Abang yang memiliki keterbelakangan mental, Abang dirawat oleh Bunda yang memiliki kost-kostan. Ada seorang penghuni kost yang mencuri hati Abang. Penghuni kost itu menjadi satu-satunya sahabat yang dipunya Abang. Setiap malam minggu mereka tidur-tiduran dihalaman dan Perempuan itu bebas mencurahkan isi hatinya kepada Abang. Sampai suatu ketika, Adik Abang baru saja pulang dari kuliahnya di luar negeri. Adik jauh beda dengan Abang. Adik adalah orang yang sempurna dan rupawan, sehingga hati perempuan itu pun tertambat pada Adik.

Bunda pun akhirnya mencium kedekatan mereka. Bunda memperingatkan kepada perempuan muda itu, jika ada yang mencintai ia dengan tulus, Bunda lebih memilih Abang. Abang mencintai tanpa syarat, tanpa pilihan dengan segenap jiwanya.

“Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Tidak perlu ada kompetisi disini. Ia, dan juga malaikat tahu siapa juaranya,”

3. Selamat Ulang Tahun


Bagaimana rasanya, jika seseorang yang selama ini kita anggap paling spesial. Justru ternyata melupakan hari ulang tahun kita?  Memang cukup simple, hanya rangkaian kata-kata “Selamat Ulang Tahun”. Tapi dampak dari 3 kata itu cukup dahsyat, terutama bagi perempuan yang mengharapnya…

“Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit yang menyalakan aba-aba “1,2,3”, kamu boleh percaya bahwa kemarin…besok…lusa…dan hari-hari sesudah itu..aku masih menunggu. Menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan… berjam-jam yang lalu”

4. Hanya Isyarat

Kisah ini mengenai seorang pengagum rahasia. Yang hanya bisa mengagumi sebatas punggung saja. Ada empat orang di tempat itu, mereka melakukan permainan, bertukar cerita sedih. Mulai dari kisah putus cinta, kehilangan sahabat, hingga bencana alam. Giliran dia yang bercerita, ia bercerita tentang cahaya, ia pernah mati suri, ketika cahaya itu akan merengkuhnya, ia justru terbangun, ia merasa patah hati. Giliran tokoh Aku yang bercerita. Ia bercerita tentang sahabatnya di negeri orang yang sederhana, setiap kali beli lauk, ibunya ke pasar untuk membeli ayam tapi hanya bagian punggung yang mampu ia beli, kemudian ia lanjutkan dengan ceritanya yang jatuh cinta tapi hanya mampu gapai sebatas punggung saja.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”

5. Firasat

Ini termasuk cerita pilu. Ketika seorang perempuan mengagumi seorang lelaki yang ditemuinya di sebuah Klub Firasat. Pemuda itu adalah pemimpin Klub. Selama ini, si perempuan hanya sebagai pendengar, tidak pernah ikut berbagi ataupun menanggapi. Hingga pada suatu kesempatan, dia bisa lebih dekat mengenal lelaki itu. Tapi sayangnya tak lama setelah itu, lelaki itu harus pergi.

“Yang harus terjadi pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa kamu lakukan, kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima. Semua akan baik baik saja,”


Dari keseluruh cerita yang ada, 5 cerita tersebut adalah favorit gue. Bukan berarti yang lain tidak bagus. Kalau disuruh memberi bintang 1 sampai 10, saya akan memberikan nilai 9 untuk buku ini. 


Sentuh hati dari dua sisi..

Sabtu, 08 Maret 2014

Desa Penglipuran, Kaya Akan Tradisi dan Kearifan Lokal

Bali memang mengagumkan. Selalu ada hal yang patut untuk diceritakan tentang Bali. Senantiasa ada adat dan budaya Bali yang layak untuk diangkat dan sayang untuk dilewatkan.  Salah satunya adalah Desa Penglipuran Desa Penglipuran merupakan salah satu desa di Bali yang sampai saat ini masih memegang teguh budayanya.  

Jika kita ingin melihat kawasan permukiman adat yang tertata dengan rapi dan sangat konseptual, Desa Penglipuran lah tempatnya. Jika ingin mengenal konsep permukiman yang sangat kental dengan kearifan lokal, Penglipuran lah salah satu yang layak dituju. Tidak heran jika desa ini sering dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Desa Penglipuran masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli. Letaknya di jalan utama Kintamani – Bangli. Kata “Penglipuran” berasal dari kata “Pengeling Pura”. Artinya, tempat suci untuk mengenang para leluhur. Jaraknya sekitar 45 km dari Kota Denpasar. Desa  Penglipuran memiliki luas sekitar 112 Ha, yang terdiri dari tegalan, hutan bambu, permukiman, dan beragam fasilitas umum seperti pura, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Berada di perbukitan dengan ketinggian berkisar 700 m diatas permukaan air laut, menjadikan Panglipuran sebagai kawasan yang cukup sejuk.

Memasuki kawasan Desa Penglipuran, kita sudah dihadapkan pada konsep permukiman yang ramah lingkungan. Dengan tegas kawasan Penglipuran tidak memperkenankan mobil maupun kendaraan bermotor lainnya memasuki kawasan. Seluruh kendaraan bermotor hanya dapat mencapai pelataran parkir yang disediakan di depan kawasan.

Desa Wisata Penglipuran terlihat begitu asri. Keasrian kawasan telah menerpa pengunjung saat pertama kaki melangkah memasuki kawasan. Selain asri, juga sangat bersih. Sangat sulit untuk menemukan sampah yang tercecer di sana, apalagi onggokan sampah. Tidak ada sama sekali. Di beberapa sudut disediakan tempat sampah dengan desain yang cukup unik. Kerimbunan pepohonan di sepanjang jalan utama yang membelah desa juga menambah suasana asri.

Di sekitar pintu gerbang masuk desa terdapat area yang dinamakan catus pata yang merupakan area yang terdiri dari balai desa, fasilitas masyarakat, dan ruang terbuka hijau berupa taman nan asri. Semuanya  tertata dengan apik. Perpaduan tatanan struktur ruang desa tradisional dan konsep wisata desa yang cukup menjual.

Penataan fisik bangunan dan pola penataan kawasan di Desa Wisata Penglipuran sangat kental dengan budaya Bali yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Budaya yang berlaku turun temurun. Nuansa tradisional Bali sangat terasa. Terdapat jalan utama yang membelah desa dengan deretan gerbang/pintu masuk menuju rumah-rumah. Pintu masuk ke tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko. Pintu sengaja dibuat tidak terlalu lebar dengan maksud agar tidak dapat dilalui oleh motor. Tiap gerbang ditempeli tulisan keterangan tentang nama pemilik rumah dan anggota keluarga.

Jalan utama terus menanjak, disertai undakan-undakan dan di ujungnya terdapat pura. Jalan-jalan di lingkungan perumahan terbuat dari batu alam yang dihiasi rumput di sepanjang kanan dan kiri jalan. Deretan pohon kemboja tidak ketinggalan memunculkan nuansa khas Bali.

Selain suasananya yang asri dan sangat mengagumkan, penduduk desa juga sangat ramah terhadap setiap tamu yang datang. Sempat memasuki beberapa rumah yang ada, mereka menyapa dengan ramah, “Silakan masuk pak, bu, mari lihat-lihat di dalam rumah,” ucap salah satu warga .

Desain rumah dibuat hampir sama, yaitu menggunakan konsep rumah tradisional khas Bali atau rumah adat Bali. Tiap rumah memiliki bagian-bagian rumah yang dibangun terpisah. Terdiri dari beberapa bangunan yang berdiri sendiri, walau letaknya tidak berjauhan. Masing-masing rumah terdiri dari bangunan rumah utama, bale-bale, dapur, jineng untuk lumbung padi, dan tempat suci untuk pemujaan. Terdapat pula konsep/pakem yang harus ditaati. Misal tentang arah dan lokasi dari masing-masing bangunan. Sangat menarik. Istimewanya, setiap rumah dipastikan terdapat tempat pemujaan berupa pura mini.

Di ujung jalan utama terlihat pura yang merupakan landmark kawasan. Sebuah pura yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Desa Penglipuran. Seperti desa adat lainnya, banyak ritual keagamaan yang terselenggara di sana. Ada pula ritual yang dilakukan setiap hari.


Jaman terus berubah, namun adat dan budaya Bali masih tetap terpelihara. Kearifan lokal di Desa Wisata Penglipuran masih terasa kental. Sungguh mengagumkan. Tertarik untuk berkunjung ke sana? Silahkan.

Sabtu, 01 Maret 2014

Hanya Isyarat




Rectoverso: Hanya Isyarat

Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai - sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.

“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.

Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.

Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.

Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.

Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat sanagat menarik.

Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.

Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir .


Matanya cokelat muda.

Itu sudah lebih dari cukup.


NB : Cerpen diatas saya ambil dari blog ini, berasal dari buku Rectoverso milik Dewi Dee Lestari.

Saya sudah berkali-kali membaca cerpen ini dan selalu jatuh cinta. Maka, saya putuskan menyimpannya di blog ini, karena males ngetik, saya ngopi dari blogger lain. :)

Selasa, 18 Februari 2014

Curhat Buat Sahabat



"Sahabatku, usai tawa ini Izinkan aku bercerita: Telah jauh, ku mendaki Sesak udara di atas puncak khayalan Jangan sampai kau di sana Telah jauh, ku terjatuh Pedihnya luka di dasar jurang kecewa Dan kini sampailah, aku disini Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku Menanti seorang yang biasa saja Segelas air di tangannya, kala kuterbaring sakit Yang sudi...." Dee - Curhat Buat Sahabat

Semua berawal dari malam dimana gue dengan tidak sengaja melihat ada pesan singkat melalui messanger yang ada di hp-nya. Sebelumnya memang tidak ada niat untuk melihat apa isi pesan singkat tersebut dan memang tidak minat untuk mencampuri urusan orang, namun nggak sengaja gue melihat nama pada pesan singkat tersebut. Langsung aja gue kasih hp ke-orangnya.

"Ciyeeeeeh, udah nggak jomblo nih kayaknya. Hape nya gak berhenti bunyi dari tadi," kata gue.

"Belom jadi, nggak boleh takabur," jawabnya

Dengan alasan takut takabur, gue nggak pernah dapet cerita tentang orang itu. Beda sekali orang yang ada di depan gue saat itu dengan sahabat gue yang biasanya mau cerita tentang apa saja dengan gue seperti malam tepat 3/2 tahun yang lalu.

Malam itu gerimis turun tanpa permisi terlebih dahulu, kami baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman sekelas kami. Tanpa ragu ragu kami menerjang gerimis yang perlahan berubah menjadi rintikan air yang cukup deras. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak.

Lima menit kami saling berdiam diri menunggu hujan itu reda, tiba tiba suara nya memecah keheningan.

"Gue lagi patah hati"

"Oh ya, kenapa?," tanyaku padanya

Gue sempat kaget karena memang kita kenal sudah sejak setahun yang lalu tapi masing-masing dari kami tak pernah ngobrol sedekat ini.

"Iya, gue baru putus dan gue pengen balikan lagi sama dia,"

kalimat awal tersebut menjadi kalimat pembuka curhatan panjangnya mengenai cerita cintanya yang baru saja usai. mulai dari hujan deras sampai hujan berhenti tak putus dia curhat.

Hujan pun sudah reda, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan pun tak berhenti ia curhat mengenai mantannya yang sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama ia kenal.

Gue merasa sangat senang mendengar cerita dari dia, karena itu merupakan awal dari persahabatan kita. Entah ia pun menganggap sama atau tidak yang penting itu yang aku rasakan.

Saat ini, ia telah berubah. sekarang tertutup dan cenderung cuek. gue mulai kehilangan sosok sahabat. gue tau dia lagi jatuh cinta, tapi gue merasa nggak guna sebagai sahabat waktu dia gak mau curhat mengenai gebetannya sama gue.

Bahkan, waktu gue bener bener butuh bantuan, dia nggak ada untuk gue. Satu hal yang pengen gue omongin saat ini....

Gue rindu.... Sahabat..

Selasa, 11 Februari 2014

Komedi Segar Ala Comic 8

Comic 8


Bagi penggemar film komedi, belum lengkap rasanya jika tidak menonton film dalam negeri yang dirilis sejak 29 Januari 2014 lalu, yakni Comic 8. Film Comic 8 merupakan sebuah film bergenre komedi action yang disutradarai oleh Anggy Umbara yang pernah membesut film Mama Cake dan Coboy Junior The Movie.

Comic 8 sendiri bercerita tentang delapan anak muda dari berbagai macam background dan kisah hidup masing-masing, yang secara kebetulan merampok sebuah bank dalam waktu bersamaan.

Delapan orang tersebut diperankan oleh para Stand Up Comedian, antara lain Mongol Stres, Mudy Taylor, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza dan Arie Kriting. Namun, dalam film berdurasi 105 menit ini mereka tidak tampil sendiri-sendiri untuk melakukan Stand Up Comedi, melainkan menjadi perampok bank dengan karakternya masing-masing yang cukup unik.

Bermodalkan senjata laras panjang dan pistol di tangan, mereka mencoba menjarah uang bank sambil menyandera nasabah-nasabah yang sedang berada di dalam bank tersebut untuk ditebus dengan sejumlah permintaan, seperti contohnya keinginan agar ibu kota Indonesia dipindahkan ke Papua. Motivasi untuk mereka melakukan perampokan pun macam-macam, diantaranya demi dapat menyumbang rumah-rumah panti asuhan, dan ada juga yang karena ingin naik haji.

Dalam film tersebut juga tampil Nirina Zubir dan Boy William dengan perannya sebagai polisi yang mencoba untuk menghentikan aksi perampokan tersebut. Tak lupa aksi Pandji Pragiwaksono dengan perannya sebagai Dokter Ahli Kejiwaan serta Nikita Mirzani dan Agung Hercules sebagai anak buah Dr. Pandji yang menyebabkan kedelapan orang tersebut melakukan aksi perampokan.

Indro ‘Warkop’ pun turut memeriahkan film ini, ia berperan sebagai kepala detektif yang memiliki keahlian menghipnotis anak-anak buahnya untuk menyelesaikan sebuah misi.

Aksi keseluruhan pemain cukup ciamik, dimana para Stand Up Comedian pun tanpa disadari mengeluarkan dialog lelucon yang mereka biasa gunakan ketika melakukan open mic dan cukup dapat membuat penonton tertawa. Alur cerita yang sering flashback pun tidak membuat penonton bingung untuk menontonnya. Skenario buatan Fajar Umbara pun cukup baik, dari awal hingga akhir film tak henti-hentinya membuat penonton tertawa.

Bagi penggemar film komedi yang belum menonton film ini, alangkah baiknya meluangkan waktu untuk pergi ke bioskop dan menonton film Comic 8 ini, karena dapat membuat penonton terhibur dan tertawa sepanjang film diputar. Setelah film berakhir, jangan terburu-buru untuk meninggalkan studio, karena akan ada cuplikan para Stand Up Comedian melakukan open mic yang tidak kalah lucunya.


Peresensi : Kris Aji Irawan