Minggu, 29 Juli 2012

Dancing In the Rain



"Life isn't about waiting for the storm to pass... Its about learning to dance in the rain" - Vivian Greene

Seperti kata quote diatas, hidup bukan melulu tentang menunggu petir untuk lewat, tapi bagaimana kita bisa tetap menari dibawah hujan. Hal ini merupakan sebuah ungkapan untuk kita belajar tidak takut terhadap suatu masalah, sebesar apapun masalah yang kita hadapi apabila kita tetap menikmati nya, pasti kita akan tetap dapat melewatinya...

Dan saat saya melihat quote tersebut diatas, saya teringat akan film kesukaan saya Step Up 2 "The Streets" yang menceritakan bahwa ada seorang penari bernama Andy yang dikucilkan dari komunitas nya akibat ia memutuskan untuk masuk ke suatu sekolah. Singkat cerita saat ia dikeluarkan dari komunitas yang lama, ia tetap bersikeras untuk mengikuti kompetisi para penari jalanan yang biasa disebut kompetisi The Streets. Di sekolah baru nya, ia bertemu dengan salah satu murid yang juga sangat gemar menari, dia adalah Moose, cowok yang dianggap freak oleh teman-teman sekolahnya. Kemudian mereka berdua mulai mencari team untuk membuat group yang baru agar dapat bisa mengikuti kompetisi tersebut. Pada saat kompetisi tersebut, Andy Cs tidak diperbolehkan untuk mengikuti nya dikarenakan dianggap tidak bisa oleh panitia acara tersebut. Akhirnya Andy Cs memutuskan untuk tetap menari diluar tempat kompetisi tersebut berlangsung, meski dibawah hujan yang cukup deras. Dan benar saja seluruh penonton serta group Andy yang lama terkesima dengan penampilannya.

Nilai yang dapat dipetik dari film tersebut adalah ketika kita diremehkan dan tidak dipercaya, jadikan itu motivasi agar kita dapat membuktikan ke orang banyak bahwa kita bisa :))

Kepedulian di Tanah Sengketa




Anak-anak seharusnya menikmati masa nya diisi dengan keceriaan, bermain dan belajar namun berbeda dengan sekumpulan anak-anak yang berada di wilayah Hang Jebat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mereka harus tumbuh di tengah wilayah yang mengalami sengketa. Atas dasar tersebut, beberapa mahasiswa Universitas Prof.Dr.Moestopo (Bearagama) tergabung dalam kegiatan Edutainment For Childreen membuat acara kepedulian sekaligus buka puasa bersama yang bertajuk Spread The Love in Ramadhan pada Jumat, 27 Juli 2012 kemarin.

 “Awalnya ini merupakan suatu projek implementasi English In Society semacam mengajar bahasa Inggris pada anak-anak jadi kita menamai nya Edutainment For Childreen,” ungkap Siti Wulandari selaku projek leader komunitas tersebut. Education and Entertainment ini  sendiri merupakan kegiatan pendidikan kepada anak-anak di sekitar wilayah Hang Jebat dengan cara memberikan edukasi yang menarik, berbeda dengan cara yang dilakukan sekolah pada umumnya. Perempuan ber hijab ini menambahkan bahwa komunitas yang dibuat bersama teman-temannya ini bukan suatu WKM (Wadah Kegiatan Mahasiswa) yang terpatok pada program serta masa jabatan, melainkan komunitas ini terbentuk karena adanya panggilan hati.

Pada acara tersebut juga terdapat acara peresmian perpustakaan mini yang diberi nama “Taman Siswa” , perpustakaan ini mengadopsi nama dari sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Pembuatan perpustakaan ini  merupakan salah satu implementasi dari kegiatan Edutainment For Childreen, dengan harapan anak-anak yang berada di sekitar wilayah sengketa tersebut memiliki minat tinggi untuk membaca.
Awal sengketa tanah disini adalah pengakuan atas kepemilikan tanah seluas 57000m2 oleh Kementrain Kesehatan. Pada tahun 1959 tanah yang awalnya berupa rawa tersebut mulai dibangun sedikit demi sedikit oleh warga sekitar. Namun, mulai tahun 1998 saat Undang-Undang Agraria berubah menjadi sertifikasi, Kementrian Kesehatan membuat sertifikasi atas kepemilikan tanah tersebut. Hal inilah yang menjadi masalah sengketa tersebut.

Acara yang diselenggarakan Jumat kemarin tidak hanya sekedar peresmian perpustakaan mini saja, melainkan ada hiburan dari WKM Kosmik, pembacaan puisi, pembacaan dongeng islami, buka puasa bersama, kemudian ditutup dengan Sholat Isha berjamaah.

Rabu, 18 Juli 2012

Batas

Batas......
Dia bukan jarak, dia hanya seperti rasa cukup, mengisyaratkan sesuatu hanya sampai disini.
Seperti keset yang ada di depan pintu menandakan bahwa sebentar lagi kau akan memasuki rumah.
Seperti handphone yang dimatikan , ketika ingin menikmati waktu sendiri untuk membaca buku.
Seperti tepi laut pantai dan laut lepas ...
Terkadang ia seperti spasi, seperti koma, seperti tanda tanya, atau bisa jadi adalah titik.
Tergantung pada kau sampai bagian yang mana.
Mungkin saat ini kita sedang ada dalam sebuah batas
Terdapat garis yang kita buat untuk diri sendiri.
Ada kata cukup yang disodorkan ke permukaan
Batas seperti mengingatkan bahwa ada masa saat kita pernah bersama
Supaya kita tidak lupa bahwa kita tidak pernah mencinta tanpa batas itu
Kini tak lagi sama, Kita masih sering melihat tapi tidak pernah bersentuhan.
Kita masih saling menginginkan, tapi tidak ada lagi usaha sama seperti waktu itu.
Kita masih berdiri di tempat yang sama , tapi hanya melambai dari kejauhan.
Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya bau parfummu yhang tercium
Yang cuma menjalankan tanggung jawabnya sekaligus sepertin pelerai
Mengajarkan kita merenung dan mengambil waktu .
Dia bukan jarak, juga bukan sebagai pelarian.
Hanya sebagai satu dunia , Hanya cukup, Hanya seperti sampai disini.
Tidak bisa lagi, Tidak sanggup lagi, Tidak mampu
Beberapa bahkan akan diiringi oleh kata tidak.
Dia adalah antara yang membuat kau dan aku sama-sama melihat pada hitam mata kita.
Lalu berucap sekian dan terima kasih........




NB : Penggalan puisi mengenai Batas yang dikirimkan oleh teman saya Dwi Retnaningtyas melalui VoiceNote......

Selasa, 10 Juli 2012

Arti Sebuah Proses


Mendengar kata Proses, hal yang pertama saya bayangkan adalah perjalanan menuju sesuatu apa yang kita inginkan. Setiap proses tidak ada yang benar-benar berjalan lurus semua pasti melalui jalan yang panjang dan berliku untuk membuat diri kita lebih baik lagi dari sebelumnya.

Kupu-kupu yang indah tampak cantik dengan sayap-sayap nya yang berwarna-warni . namun untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, tidaklah lantas langsung menjadi seperti itu, semua ada prosesnya dari seekor ulat lalu berubah menjadi kepompong sebelum akhirnya menjadi kupu-kupu yang cantik. Metamorphosis seperti itulah ggambaran dari sebuah proses.

Jumat (6/7) kemarin saya dan ke-empat teman saya menjalani Pendidikan dan Pelatihan tahap II yang diadakan oleh LPM Media Publica. Sebelumnya anggota Madya angkatan kami berjumlah 9 orang, kami menjalani sedikit gambaran tentang contoh sebuah proses selama 7 bulan terhitung sejak selesai Pendidikan dan Pelatihan tahap I. Namun ditengah perjalanan proses kami, dengan berbagai alasan beberapa teman kami memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan proses tersebut.

Hingga sampai pada hari saat Diklat II diadakan hanya tersisa 4 dari 9 anggota madya nya. Pada awalnya, terselip keraguan dalam diri saya sendiri apa saya masih sanggup meneruskan proses tersebut melihat hanya tinggal 3 orang yang akan menjadi rekan kerja serta rekan berbagi motivasi dalam menjalankan organisasi ini kedepannya? . kemudian sempat terbesit di pikiran saya bahwa ini adalah suatu tantangan, dengan menjalankannya saya akan menjauh dari comfort zone dan menjalani proses tersebut hingga akhirnya saya dapat menemukan apa yang menjadi passion saya.

Saya memutuskan untuk tetap bertahan dan menjalani proses Diklat II bersama ketiga teman saya lainnya. Menjalani 4 hari Pendidikan dan Pelatihan di Gunung Bunder merupakan pengalaman baru dan menyenangkan bagi saya. Tak hanya mendapatkan materi mengenai organisasi khususnya, kami juga belajar tentang hidup, bagaimana kita siap untuk menjadi pemimpin, siap untuk dipimpin, bagaimana me-manage emosi, serta kerja sama team agar dapat membuang jauh rasa egois yang hanya memikirkan diri sendiri.
Hal tersebut juga merupakan contoh menjalani sebuah proses. Saat ini saya dan ketiga teman saya sudah menjadi anggota aktif di LPM Media Publica. Saatnya kita bersama-sama melakukan proses, tentunya dengan bimbingan serta nasihat dari kakak-kakak kami. Agar kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Amin