Senin, 21 Januari 2013

Pasca Banjir, Waspadai 6 Penyakit ini


Bencana banjir sempat melanda beberapa kawasan di Jakarta sejak Kamis (17/1) lalu. Banyak sekali kerugian yang ditimbulkan akibat banjir ini. Tidak sedikit dari mereka yang kehilangan harta benda dirumahnya,  kehilangan anggota keluarga yang menjadi korban dan mereka tidak bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya, mereka harus mengungsi ditempat yang aman dari banjir.
Namun perlu diperhatikan juga, pasca banjir banyak sekali gangguan kesehatan yang bisa mengancam para korban banjir. Macam-macam gangguan yang mengancam pasca banjir antara lain :

1. Penyakit Leptospirosis
Penyakit Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira sp . Leptospirosis ditularkan ke manusia saat kulit kontak dengan air, tanah dan pembungkus makanan yang tercemar urin tikus.
Jika seseorang memilik luka, bisa jadi air banjir tercampur dengan kotoran/air urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira sp, maka akan berpotensi terinfeksi. Gejala yang timbul misalnya panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.
Gunakan pelindung kaki apabila terjun langsung ke daerah banjir serta harus selalu jaga kebersihan

2. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria
Penyakit Demam Berdarah dengue (DBD) dan Malaria adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk saat musim hujan dan pasca banjir. Karena pada musim hujan banyak sampah seperti kaleng bekas dan tempat-tempat tertentu terisi oleh air, dan terjadi genangan untuk beberapa waktu.
genangan air tersebut menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti , nyamuk yang menularkan penyakit demam berdarah.
Awalnya, banjir memang akan menyapu sarang nyamuk tapi setelah itu air yang tergenang akan menjadi sarang baru.
Gejala awal dari penyakit DBD ini yaitu demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di balik mata, nyeri pada persendian dan otot serta keluarnya bercak-bercak merah.



3. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

Pasca banjir, jamur dapat tumbuh lebih cepat dan rentan menimbulkan masalah kesehatan. Paparan jamur yang berlebihan pasca banjir dapat menyebabkan ISPA, kambuhnya asma dan alergi.
Gejala utama penyakit ini berupa batuk, nyeri dada dan lain-lain. Apabila mengalami seperti ini, maka segara beistirahatlah. Cegah penularan terhadap orang yang di sekitar, misalnya dengan menutup mulut ketika batuk dan tidak meludah di sembarang tempat.
Oleh karena itu, masyarakat dihimbau agar waspada terhadap perubahan cuaca terutama untuk penyakit seperti ISPA

4. Penyakit Diare dan Demam Typoid
Penyakit ini bisa terjadi bila mengkonsumsi air atau makanan yang tercemar banjir. Pada saat banjir, sumber air minum banyak yang tercemar. Jika di pengungsian pun sarana serba terbatas, apalagi tersedianya air bersih. Inilah yang bisa menjadi penyebab terjadinya penyakit diare. Namun, hal ini bisa di antisipasi dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang air.
Selain itu, kebersihan makanan merupakan peranan penting, karena itu selalu perhatikan kebersihan makanan yang akan dikonsumsi.

5. Penyakit kulit, Infeksi dan Gatal
Kontak langsung dengan air banjir sangat rentan mengalami infeksi dan dapat menimbulkan gatal-gatal pada kulit. Bila air terkena mata, akan menimbulkan radang selaput bening mata atau penyakit mata merah. Apabila air masuk ke telinga, dapat menimbulkan radang pada telinga. Apabila air terminum, dapat menimbulkan radang tenggorokan.
Musim banjir maka masalah utama adalah kebersihan yang tidak terjaga dengan baik. Tempat dimana berkumpulnya banyak orang di pengungsian dan sangat berperan dalam penularan infeksi kulit dan infeksi lainnya.


6. Gangguan Psikis
Banjir tidak hanya menimbulkan gangguan fisik tetapi juga gangguan psikis atau emosional yang tidak bisa diabaikan. Para korban banjir rental timbul stres emosional karena melihat air bah yang besar, kehilangan harta benda dan orang-orang yang dicintai mereka merupakan tekanan psikologis yang dihadapi.
Pertolongan korban banjir tidak hanya gangguan fisik tetapi psikis mereka juga butuh bantuan. Masalah mental yang kerap menimpa korban banjir misalnya kecemasan, depresi, tidak bisa tidur dan lain-lain.

Minggu, 20 Januari 2013

Aksi Sosial Moestopo Peduli Banjir


Anak-anak Kampung Pulo mewarnai gambar bersama
Bencana banjir yang menimpa beberapa kawasan di Jakarta sejak Kamis (17/1) lalu menggerakkan mahasiswa serta dosen Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama) untuk membuat Posko Moestopo Peduli Banjir di kampus I Hang Lekir. Sumbangan berupa uang tunai, obat-obatan,sembako,pakaian layak pakai ini akan di distribusikan pada korban banjir yang ada di daerah Manggarai serta Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur.

Hasil sumbangan yang terkumpul hingga Minggu (20/1) kemarin sejumlah Rp. 3.761.700 dialokasikan untuk membeli barang-barang seperti susu bayi, bubur bayi, pembalut, pampers, obat-obatan serta kebutuhan lainnya.

Selain mendistribusikan barang sumbangan logistik kepada warga Kampung Pulo, pada Minggu (20/1)  mahasiswa UPDM(B) juga membuat acara untuk menghibur anak-anak yang ada di pengungsian. “Tujuan membuat acara tersebut adalah untuk memulihkan psikologi anak-anak korban banjir yang sedang traumatik serta mengembalikan keceriaan anak-anak disana,” ungkap Arys Gunawan Pratama selaku koordinator lapangan Posko Moestopo Peduli Banjir ini.

Rangkaian acara yang dibuat kali ini berupa hiburan, dimulai dari bermain bersama, mewarnai, tertawa bersama Standup Comedy Indonesia yang berkolaborasi dengan Komunitas Senar Putus, hingga pertunjukkan musik sebagai penutup.

Sementara itu, kondisi terakhir banjir di Kampung Pulo sudah mulai surut. “Saat ini mulai memasuki zona surut, namun untuk warga yang tinggal paling dekat dengan kali Pada Minggu (20/1)  masih banjir sebetis,” ungkap Ambisi salah satu relawan yang ada di daerah tersebut.

Ambisi menambahkan karena mulai memasuki zona surut, barang barang yang saat ini warga butuhkan yaitu obat-obatan kulit untuk gatal serta alat pembersih seperti sapu,sabun pembersih lantai, serta kain pel. “Selain pembersih lantai, warga sini juga membutuhkan obat-obatan kulit untuk gatal karena air yang tidak bersih membuat mereka mudah terserang penyakit kulit,” tambah pria yang akrab disapa Bicu.

Ucapan terimakasih serta harapan datang dari Feri Ferdinand, salah satu warga yang ada di daerah Kampung Pulo, “Saya berterima kasih kepada seluruh relawan yang membantu dan harapan saya mereka tetap semangat dan bantuan tidak hanya sampai saat ini saja. Tidak cuma bantuan logistik dan tenaga yang kita harapkan, tapi juga hiburan untuk anak-anak. Itu saja harapan saya,” ungkapnya

Rabu, 16 Januari 2013

Ibukota Tergenang

Pagi ini saya bangun dalam keadaan yang cukup membuat panik. Bagaimana tidak, seluruh isi rumah sibuk bergotong royong untuk membersihkan rumah. Ya, hujan yang sedari tadi malam turun membuat genangan air alias banjir di daerah rumah saya. Tidak terlalu dalam sih, tp cukup untuk membuat airnya masuk sampai teras rumah.

Tak hanya saya yang merasakan hal ini, sebagian besar hmm mungkin hampir seluruh masyarakat ibukota mendapatkan 'jatah' banjir yang sama seperti rumah saya. Bahkan,ada yang harus mengungsi karena banjir di daerah rumahnya cukup parah. Ini biasanya dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah bantaran kali. Sedih memang melihat berita dimana mana banjir.

Oh, saya lupa. Tak hanya warga biasa, banjir kali ini juga menyebabkan istana negara tempat bernaungnya Presiden ikut terkena imbasnya. Istana negara ikut kebanjiran. Meskipun tidak parah ya kali kali merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat ya, pak Presiden..

Ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan alam, ada yang menyalahkan keadaan. Tapi, cobalah introspeksi diri apa dan siapa yang harusnya disalahkan dalam keadaan seperti ini? Ya diri kita sendiri. Perilaku kita sehari hari lah yang membuat ini semua terjadi. Perilaku yang dianggap kecil namun memiliki dampak yang besar, contohnya membuang sampah sembarangan, nah perilaku seperti ini yang patut diubah. Bayangkan, jika satu orang membuang sampah sembarangan, dikali penduduk ibukota yang jumlahnya mgkin lebih dari puluhan ribu. Ya makin penuhlah kota ini dengan sampah baik jalanan maupun kali-kali yang ada di Jakarta. Efek nya akan jelas terasa saat musim penghujan datang. Hujan lebat dalam waktu yang lama, sementara bantaran kali dan tempat-tempat untuk air mengalir sudah penuh dengan sampah yang dibuang oleh tangan-tangan jahil, akhirnya menyebabkan banjir dan menyengsarakan diri kita sendiri.

Coba lah untuk mengubah kebiasaan seperti itu. Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban sebagai warga masyarakat. Kewajiban kita menjaga lingkungan ,agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Change your habit for your better future.

Surat Untuk Kamu



Entah lewat apa aku harus menghubungimu lagi saat ini untuk mencari kamu yang dulu, aku punya nomer telponmu, aku punya pin bb mu, aku tahu ID twitter mu, bahkan aku tahu rumahmu dimana. Namun seakan semua itu tak cukup untuk membuat kamu seperti yang dulu. Seperti apa yang ku kenal saat kita masih dekat satu-sama-lain.

Jika perahu kertas mampu menyampaikan perasaan ku kepadamu mungkin itu akan terlihat lebih mudah untuk mencarimu. Namun hey! Coba tengok tak ada lautan, sungai ataupun kali yang membentang diantara jarak rumah kita. Aku takut perahu kertas itu akan nyasar dan tidak membuat pesanku tersampaikan untukmu-yang-dulu.

Jika dulu berbicara denganmu adalah hal yang mudah, aku cukup menekan keypad di handphone ku, menelpon kamu adalah cara yang ampuh untuk menyampaikan rasa-kangen aku sama kamu. Ya walaupun melalui kata-kata ambigu yang aku sendiri tidak tahu apa kamu bisa memahami apa yang aku maksud.

Namun sekarang sudah berbeda, rumah kita dekat seakan jauh. Jalur yang kamu lewati, itupun menjadi jalur aku. Tapi saat ini, batas yang entah terbentang tak terlihat seakan membuat jarak yang cukup jauh antara aku-dan kamu. Memahami batas itulah yang harus ku terima saat ini.
Hanya lewat surat yang takkan ku kirim ini, aku hanya ingin bilang. Jika aku rindu kamu yang dulu. Hey merpati, sampaikan salam ku untuk dia-di-masa-lalu. Sampaikan salam kangen ku untuknya.

Masih Ada Pahlawan di Sekitar Kita

Pahlawan adalah sosok yang memiliki keberanian hingga kepribadian tulus untuk rela berkorban harta benda hingga nyawa demi kepentingan orang banyak. Begitulah definisi pahlawan yang kebanyakan dipelajari dalam buku-buku sejarah. Namun dewasa ini, kata pahlawan tidaklah hanya diperuntukan bagi orang-orang yang dengan gagah berani angkat senjata di medan perang dalam melawan penjajah. Masih banyak contoh pahlawan di sekitar kita yang mengabdi demi kepentingan orang banyak.

Adalah Toyib, pria asal Indramayu yang bekerja sebagai tukang sapu jalanan di daerah Senayan, Jakarta Pusat merupakan salah satu contoh pengabdi masyarakat yang kita abaikan keberadaanya. Pria yang menjadi korban kerasnya arus urbanisasi ini terlihat cukup lemas ketika ditanya upah yang ia terima dari hasil pekerjaanya. Beliau mengeluh dalam hati kecilnya karena  upah yang diperolehnya dinilai kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari “Saya bekerja sejak tahun 2002, penghasilan  saya Rp.10.000,- per hari yang dibayar setiap satu bulan. Namanya hidup di Ibukota, penghasilan segitu mana cukup,” keluh Toyib. Tak jarang beliau juga bekerja mengumpulkan barang-barang rongsokan yang akan dijual kepada pengumpul barang bekas untuk menambah penghasilannya sehari-hari.

Dengan hanya bermodalkan sapu lidi dan gerobak sampah, setiap hari nya Toyib mengelilingi daerah Senayan hingga Kolong Slipi untuk membersihkan jalanan sekitar agar terlihat bersih dan bebas dari sampah. Beliau bekerja dari pukul 05.00 hingga 13.00 WIB dari hari Senin sampai dengan Minggu. Setiap harinya pria yang selalu mengenakan rompi berwarna orange ini membersihkan sampah dari pagi hingga siang, lalu sampah tersebut dikumpulkan dalam gerobak miliknya hingga sampah tersebut diangkut oleh truk sampah pada keesokan paginya.

Pria yang berperawakan kulit sawo matang dan tinggi tidak lebih dari 170cm ini mengaku bahwa pekerjaan yang ia lakoni saat ini sebagai penerus ayahnya yang telah pensiun “Saya dapat pekerjaan ini turunan dari ayah saya, karena dulu ayah saya juga bekerja sebagai tukang sapu jalanan,” ucap Toyib. Dalam menjalankan tugasnya, Toyib yang bekerja dibawah Dinas Kebersihan Tanah Abang ini mengaku bersama 3 orang teman lainnya namun dengan wilayah berbeda.

Toyib, penyapu jalanan yang diabaikan keberadaannya
Banyak suka dan duka yang dilalui oleh Toyib selama ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. “Lebih banyak duka daripada suka nya, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi tugas kita, semua itu saya jalani dengan ikhlas”, ucap bapak dua anak ini. Beliau mengaku pernah hampir tertabrak oleh kendaraan yang melintasi kawasan tempat ia membersihkan sampah. Ia sering merasakan kepanasan saat cuaca panas, bahkan kehujanan ketika musim hujan datang. Tak hanya itu saja, terkadang Toyib merasa sedikit geram terhadap pengendara sepeda motor, mobil atau bahkan pejalan kaki yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan di tempat yang baru saja ia bersihkan. Tapi sekali lagi beliau ikhlas ketika mengingat ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk membuat daerah tersebut bersih.

Sungguh ironis jika Toyib memberikan pengabdian dalam membersihkan lingkungan tetapi masih sering dipandang sebelah mata. Ia pun berharap pihak Dinas Kebersihan bisa memberikan perhatian kepada ia dan rekan-rekan sesama tukang sapu jalanan. “Saya berharap agar pemerintah serta Dinas Kebersihan mau memperhatikan kami sebagai tukang sapu jalanan, kalau tidak ada kami siapa lagi yang mau menyapu jalanan,” harap Toyib.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh okezone.com pada hari Minggu, 20 Mei 2012 bahwa volume sampah di Jakarta mencapai 6.500 ton per hari. Bisa dibayangkan jika dalam satu minggu para pembersih sampah jalanan Ibukota melakukan aksi mogok kerja dikarenakan minimnya upah serta kurangnya perhatian dari pemerintah, entah berapa banyak tumpukan sampah yang mengotori Ibukota ini.

Sampai saat ini masih banyak pengabdi yang mendedikasikan dirinya demi kepentingan orang banyak. Sosok seperti itulah yang harus kita hargai keberadaannya. Mereka dengan ikhlas melakoni pekerjaannya dan berjasa cukup besar tak ubahnya jasa para pahlawan kita terdahulu yang membela negara kita tercinta ini.