Minggu, 20 Januari 2013

Aksi Sosial Moestopo Peduli Banjir


Anak-anak Kampung Pulo mewarnai gambar bersama
Bencana banjir yang menimpa beberapa kawasan di Jakarta sejak Kamis (17/1) lalu menggerakkan mahasiswa serta dosen Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama) untuk membuat Posko Moestopo Peduli Banjir di kampus I Hang Lekir. Sumbangan berupa uang tunai, obat-obatan,sembako,pakaian layak pakai ini akan di distribusikan pada korban banjir yang ada di daerah Manggarai serta Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur.

Hasil sumbangan yang terkumpul hingga Minggu (20/1) kemarin sejumlah Rp. 3.761.700 dialokasikan untuk membeli barang-barang seperti susu bayi, bubur bayi, pembalut, pampers, obat-obatan serta kebutuhan lainnya.

Selain mendistribusikan barang sumbangan logistik kepada warga Kampung Pulo, pada Minggu (20/1)  mahasiswa UPDM(B) juga membuat acara untuk menghibur anak-anak yang ada di pengungsian. “Tujuan membuat acara tersebut adalah untuk memulihkan psikologi anak-anak korban banjir yang sedang traumatik serta mengembalikan keceriaan anak-anak disana,” ungkap Arys Gunawan Pratama selaku koordinator lapangan Posko Moestopo Peduli Banjir ini.

Rangkaian acara yang dibuat kali ini berupa hiburan, dimulai dari bermain bersama, mewarnai, tertawa bersama Standup Comedy Indonesia yang berkolaborasi dengan Komunitas Senar Putus, hingga pertunjukkan musik sebagai penutup.

Sementara itu, kondisi terakhir banjir di Kampung Pulo sudah mulai surut. “Saat ini mulai memasuki zona surut, namun untuk warga yang tinggal paling dekat dengan kali Pada Minggu (20/1)  masih banjir sebetis,” ungkap Ambisi salah satu relawan yang ada di daerah tersebut.

Ambisi menambahkan karena mulai memasuki zona surut, barang barang yang saat ini warga butuhkan yaitu obat-obatan kulit untuk gatal serta alat pembersih seperti sapu,sabun pembersih lantai, serta kain pel. “Selain pembersih lantai, warga sini juga membutuhkan obat-obatan kulit untuk gatal karena air yang tidak bersih membuat mereka mudah terserang penyakit kulit,” tambah pria yang akrab disapa Bicu.

Ucapan terimakasih serta harapan datang dari Feri Ferdinand, salah satu warga yang ada di daerah Kampung Pulo, “Saya berterima kasih kepada seluruh relawan yang membantu dan harapan saya mereka tetap semangat dan bantuan tidak hanya sampai saat ini saja. Tidak cuma bantuan logistik dan tenaga yang kita harapkan, tapi juga hiburan untuk anak-anak. Itu saja harapan saya,” ungkapnya

Rabu, 16 Januari 2013

Ibukota Tergenang

Pagi ini saya bangun dalam keadaan yang cukup membuat panik. Bagaimana tidak, seluruh isi rumah sibuk bergotong royong untuk membersihkan rumah. Ya, hujan yang sedari tadi malam turun membuat genangan air alias banjir di daerah rumah saya. Tidak terlalu dalam sih, tp cukup untuk membuat airnya masuk sampai teras rumah.

Tak hanya saya yang merasakan hal ini, sebagian besar hmm mungkin hampir seluruh masyarakat ibukota mendapatkan 'jatah' banjir yang sama seperti rumah saya. Bahkan,ada yang harus mengungsi karena banjir di daerah rumahnya cukup parah. Ini biasanya dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah bantaran kali. Sedih memang melihat berita dimana mana banjir.

Oh, saya lupa. Tak hanya warga biasa, banjir kali ini juga menyebabkan istana negara tempat bernaungnya Presiden ikut terkena imbasnya. Istana negara ikut kebanjiran. Meskipun tidak parah ya kali kali merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat ya, pak Presiden..

Ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan alam, ada yang menyalahkan keadaan. Tapi, cobalah introspeksi diri apa dan siapa yang harusnya disalahkan dalam keadaan seperti ini? Ya diri kita sendiri. Perilaku kita sehari hari lah yang membuat ini semua terjadi. Perilaku yang dianggap kecil namun memiliki dampak yang besar, contohnya membuang sampah sembarangan, nah perilaku seperti ini yang patut diubah. Bayangkan, jika satu orang membuang sampah sembarangan, dikali penduduk ibukota yang jumlahnya mgkin lebih dari puluhan ribu. Ya makin penuhlah kota ini dengan sampah baik jalanan maupun kali-kali yang ada di Jakarta. Efek nya akan jelas terasa saat musim penghujan datang. Hujan lebat dalam waktu yang lama, sementara bantaran kali dan tempat-tempat untuk air mengalir sudah penuh dengan sampah yang dibuang oleh tangan-tangan jahil, akhirnya menyebabkan banjir dan menyengsarakan diri kita sendiri.

Coba lah untuk mengubah kebiasaan seperti itu. Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban sebagai warga masyarakat. Kewajiban kita menjaga lingkungan ,agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Change your habit for your better future.

Surat Untuk Kamu



Entah lewat apa aku harus menghubungimu lagi saat ini untuk mencari kamu yang dulu, aku punya nomer telponmu, aku punya pin bb mu, aku tahu ID twitter mu, bahkan aku tahu rumahmu dimana. Namun seakan semua itu tak cukup untuk membuat kamu seperti yang dulu. Seperti apa yang ku kenal saat kita masih dekat satu-sama-lain.

Jika perahu kertas mampu menyampaikan perasaan ku kepadamu mungkin itu akan terlihat lebih mudah untuk mencarimu. Namun hey! Coba tengok tak ada lautan, sungai ataupun kali yang membentang diantara jarak rumah kita. Aku takut perahu kertas itu akan nyasar dan tidak membuat pesanku tersampaikan untukmu-yang-dulu.

Jika dulu berbicara denganmu adalah hal yang mudah, aku cukup menekan keypad di handphone ku, menelpon kamu adalah cara yang ampuh untuk menyampaikan rasa-kangen aku sama kamu. Ya walaupun melalui kata-kata ambigu yang aku sendiri tidak tahu apa kamu bisa memahami apa yang aku maksud.

Namun sekarang sudah berbeda, rumah kita dekat seakan jauh. Jalur yang kamu lewati, itupun menjadi jalur aku. Tapi saat ini, batas yang entah terbentang tak terlihat seakan membuat jarak yang cukup jauh antara aku-dan kamu. Memahami batas itulah yang harus ku terima saat ini.
Hanya lewat surat yang takkan ku kirim ini, aku hanya ingin bilang. Jika aku rindu kamu yang dulu. Hey merpati, sampaikan salam ku untuk dia-di-masa-lalu. Sampaikan salam kangen ku untuknya.

Masih Ada Pahlawan di Sekitar Kita

Pahlawan adalah sosok yang memiliki keberanian hingga kepribadian tulus untuk rela berkorban harta benda hingga nyawa demi kepentingan orang banyak. Begitulah definisi pahlawan yang kebanyakan dipelajari dalam buku-buku sejarah. Namun dewasa ini, kata pahlawan tidaklah hanya diperuntukan bagi orang-orang yang dengan gagah berani angkat senjata di medan perang dalam melawan penjajah. Masih banyak contoh pahlawan di sekitar kita yang mengabdi demi kepentingan orang banyak.

Adalah Toyib, pria asal Indramayu yang bekerja sebagai tukang sapu jalanan di daerah Senayan, Jakarta Pusat merupakan salah satu contoh pengabdi masyarakat yang kita abaikan keberadaanya. Pria yang menjadi korban kerasnya arus urbanisasi ini terlihat cukup lemas ketika ditanya upah yang ia terima dari hasil pekerjaanya. Beliau mengeluh dalam hati kecilnya karena  upah yang diperolehnya dinilai kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari “Saya bekerja sejak tahun 2002, penghasilan  saya Rp.10.000,- per hari yang dibayar setiap satu bulan. Namanya hidup di Ibukota, penghasilan segitu mana cukup,” keluh Toyib. Tak jarang beliau juga bekerja mengumpulkan barang-barang rongsokan yang akan dijual kepada pengumpul barang bekas untuk menambah penghasilannya sehari-hari.

Dengan hanya bermodalkan sapu lidi dan gerobak sampah, setiap hari nya Toyib mengelilingi daerah Senayan hingga Kolong Slipi untuk membersihkan jalanan sekitar agar terlihat bersih dan bebas dari sampah. Beliau bekerja dari pukul 05.00 hingga 13.00 WIB dari hari Senin sampai dengan Minggu. Setiap harinya pria yang selalu mengenakan rompi berwarna orange ini membersihkan sampah dari pagi hingga siang, lalu sampah tersebut dikumpulkan dalam gerobak miliknya hingga sampah tersebut diangkut oleh truk sampah pada keesokan paginya.

Pria yang berperawakan kulit sawo matang dan tinggi tidak lebih dari 170cm ini mengaku bahwa pekerjaan yang ia lakoni saat ini sebagai penerus ayahnya yang telah pensiun “Saya dapat pekerjaan ini turunan dari ayah saya, karena dulu ayah saya juga bekerja sebagai tukang sapu jalanan,” ucap Toyib. Dalam menjalankan tugasnya, Toyib yang bekerja dibawah Dinas Kebersihan Tanah Abang ini mengaku bersama 3 orang teman lainnya namun dengan wilayah berbeda.

Toyib, penyapu jalanan yang diabaikan keberadaannya
Banyak suka dan duka yang dilalui oleh Toyib selama ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. “Lebih banyak duka daripada suka nya, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi tugas kita, semua itu saya jalani dengan ikhlas”, ucap bapak dua anak ini. Beliau mengaku pernah hampir tertabrak oleh kendaraan yang melintasi kawasan tempat ia membersihkan sampah. Ia sering merasakan kepanasan saat cuaca panas, bahkan kehujanan ketika musim hujan datang. Tak hanya itu saja, terkadang Toyib merasa sedikit geram terhadap pengendara sepeda motor, mobil atau bahkan pejalan kaki yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan di tempat yang baru saja ia bersihkan. Tapi sekali lagi beliau ikhlas ketika mengingat ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk membuat daerah tersebut bersih.

Sungguh ironis jika Toyib memberikan pengabdian dalam membersihkan lingkungan tetapi masih sering dipandang sebelah mata. Ia pun berharap pihak Dinas Kebersihan bisa memberikan perhatian kepada ia dan rekan-rekan sesama tukang sapu jalanan. “Saya berharap agar pemerintah serta Dinas Kebersihan mau memperhatikan kami sebagai tukang sapu jalanan, kalau tidak ada kami siapa lagi yang mau menyapu jalanan,” harap Toyib.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh okezone.com pada hari Minggu, 20 Mei 2012 bahwa volume sampah di Jakarta mencapai 6.500 ton per hari. Bisa dibayangkan jika dalam satu minggu para pembersih sampah jalanan Ibukota melakukan aksi mogok kerja dikarenakan minimnya upah serta kurangnya perhatian dari pemerintah, entah berapa banyak tumpukan sampah yang mengotori Ibukota ini.

Sampai saat ini masih banyak pengabdi yang mendedikasikan dirinya demi kepentingan orang banyak. Sosok seperti itulah yang harus kita hargai keberadaannya. Mereka dengan ikhlas melakoni pekerjaannya dan berjasa cukup besar tak ubahnya jasa para pahlawan kita terdahulu yang membela negara kita tercinta ini.

Senin, 24 Desember 2012

Aksos Fikom di Tanah Sengketa



Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Senma Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)  kembali mengadakan Aksi Sosial (Aksos) pada Minggu (23/12) lalu di Jalan Hang Jebat, Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Acara yang merupakan implementasi dari tridharma perguruan tinggi pengabdian pada masyarakat ini bertajuk “Fikom Peduli Sesama”.

“Tujuan dari aksos kali ini agar dapat meningkatkan minat belajar dari anak anak sekitar dan kita juga memberi hiburan untuk mereka,” ungkap Dennindra Ramadhan selaku Koordinator Bidang III Senma Fikom. Selain memberikan pengajaran terhadap anak-anak sekitar, peserta juga melakukan pembersihan serta pembaharuan buku di perpustakaan Taman Siswa yang ada di wilayah itu. Buku-buku tersebut didapat dari sumbangan peserta dan mahasiswa UPDM(B). 

 “Karena tema aksos nya Edutainment for children dan kebetulan saya suka dengan anak-anak, menjadi salah satu alasan saya ikut kegiatan ini,” ungkap Hanifa Al Jufri, salah satu peserta yang ikut dalam kegiatan ini. Peserta yang jumlahnya delapan orang ini cukup disayangkan oleh Rangga Gani Satrio peserta aksos lainnya. Menurutnya. hal ini dikarenakan jenjang aksos yang hanya selang satu minggu dari pelaksanaan baksos. “Kalau bisa untuk tahun depan diberikan jenjang waktu agak panjang dari baksos, jangan habis baksos lalu minggu depannya aksos,” tambah pria yang akrab disapa Rangga ini.

Tanggapan datang dari Darmawan, salah satu warga Hang Jebat terhadap aksos kali ini “acara nya menarik sangat bagus dapat menghibur anak-anak agar bisa bergembira lah walaupun keadaan kita masih seperti ini,” ucapnya. Beliau berharap agar kegiatan pendidikan anak seperti ini diperbanyak guna masa depan anak-anak di wilayah tersebut.

Tak hanya pendidikan , acara aksos ini juga memberikan hiburan bagi anak-anak di Hang Jebat. Hiburan tersebut ialah pembacaan dongeng anak, nonton bersama film anak, serta penampilan musik sebagai penutup.

Konflik yang terjadi di Hang Jebat ini dimulai dari pengakuan atas kepemilikan tanah oleh Kementrian Kesehatan. Warga sudah tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1959, namun mulai tahun 1998 saat Undang Undang Agraria berubah menjadi sertifikasi, Kementrian Kesehatan membuat sertifikasi atas kepemilikan tanah tersebut. Hal inilah yang menjadi masalah sengketa di wilayah Hang Jebat ini.